TULISANMU BELUM SEMPURNA? PROOFREADING AJA!

 RESUME KE-12 KBMN BERSAMA PAK D

TULISANMU BELUM SEMPURNA? PROOFREADING AJA!

OLEH: IMAS MASITOH, S.Pd.SD

HARI TANGGAL: SENIN, 11 MEI 2026

NARASUMBER: SUSANTO, S.Pd

MODERATOR: LELY SURYANI, S.Pd.SD

 

"Satu kesalahan kecil yang luput dari pemeriksaan bisa merusak kredibilitas penulis secara keseluruhan”_ Pak D


Pendahuluan

Malam ini, Jum’at 15 Mei 2025 adalah pertemuan ke-12 bagi  kami, Materi kali ini adalah materi yang sangat menarik dan pasti sudah menjadi hal yang tidak aneh bagi penulis. Ya, Proofreading.

Bagi seorang penulis, salah satu ketakutan terbesar yang sering muncul setelah menyelesaikan sebuah draf adalah perasaan bahwa tulisan tersebut belum sempurna. Masih ada kalimat yang terasa mengganjal, salah ketik (typo) yang terselip, hingga tanda baca yang berantakan.

Namun, melalui pertemuan ke-12 KBMN bersama narasumber hebat kita, Pak Susanto, S.Pd. (yang akrab disapa Pak D), kita disadarkan bahwa draf pertama yang berantakan adalah hal yang sangat wajar. Kunci untuk mengubah tulisan mentah tersebut menjadi sebuah karya yang bernilai jual dan nyaman dibaca adalah melalui proses Proofreading.

Dipandu oleh Ibu Lely Suryani, S.Pd.SD. selaku moderator, kelas malam ini mengupas tuntas mengapa kita tidak perlu cemas dengan tulisan yang belum sempurna, karena selalu ada ruang perbaikan melalui proses penyuntingan yang tepat.

Proofreading dalam Dunia Menulis

Sering kali, banyak penulis pemula menganggap remeh tahap akhir ini atau mengira bahwa proofreading hanyalah aktivitas membuang waktu untuk mencari salah ketik (typo). Padahal, proofreading jauh lebih mendalam dari itu.

Proofreading adalah aktivitas memeriksa kesalahan dalam teks secara cermat dan menyeluruh sebelum draf tersebut dipublikasikan, dicetak, atau dibagikan ke khalayak luas. Secara singkat, ini adalah benteng pertahanan terakhir dalam proses kepenulisan.

"Satu kesalahan kecil yang luput dari pemeriksaan bisa merusak kredibilitas penulis secara keseluruhan."

Ketika pembaca menemukan sebuah buku yang penuh dengan ejaan keliru, tanda baca yang berantakan, atau kalimat yang membingungkan, kepercayaan mereka terhadap kompetensi sang penulis bisa langsung menurun. Oleh karena itu, proofreading sejatinya berbicara tentang bagaimana kita menjaga kualitas, profesionalitas, dan kejelasan pesan dari sebuah tulisan sebelum akhirnya dilepas secara resmi ke tangan pembaca. Sentuhan kecil dari proses ini memberikan dampak yang luar biasa besar bagi kenyamanan pembaca.

Editing VS Proofreading

Banyak orang yang masih bingung dan menyamakan antara proses editing (penyuntingan) dengan proofreading. Pak D menegaskan bahwa kedua tahap ini berada pada lajur yang berbeda:

·         Editing (Penyuntingan Substansi): Proses ini menyentuh bagian yang makro, seperti mengubah substansi draf, memperbaiki struktur alur cerita, memotong bab yang terlalu panjang, atau menyusun ulang logika paragraf agar lebih runut.

·         Proofreading (Uji Cetak/Pemeriksaan Akhir): Proses ini murni berfokus pada hal-hal mikro atau kesalahan 'minor' penulisan, seperti ketepatan ejaan (sesuai KBBI/EYD), ketepatan tanda baca, konsistensi istilah, dan kelancaran bahasa. Di tahap ini, penulis tidak lagi membongkar isi cerita atau mengubah jalan pikiran tulisan.

Waktu Terbaik Melakukan Proofreading

Satu aturan emas yang ditekankan dalam materi malam ini adalah mengenai timing atau waktu pelaksanaan. Kapan kita harus melakukan proofreading?

Jawabannya: Setelah tulisan benar-benar SELESAI secara utuh.

Jika Anda berkomitmen atau diminta menulis sebuah artikel sepanjang 800 kata, maka fokuslah terlebih dahulu menuangkan ide dari bagian pembukaan, pembahasan inti, hingga penutup sampai kuota 800 kata itu terpenuhi. Jangan pernah menulis satu kalimat, lalu langsung mengeditnya; menulis satu paragraf, lalu sibuk memikirkan typo. Menulis dan memeriksa adalah dua aktivitas yang menggunakan belahan otak berbeda.

Selesaikan draf Anda sampai tuntas tanpa interupsi, biarkan ide mengalir sampai ujung penutup. Setelah tulisan selesai 100%, barulah Anda mengambil jarak, berganti peran menjadi seorang proofreader, dan mulai menyisir teks tersebut dengan mata yang jeli.

Bagaimana kita tahu tulisan kita ada kesalahan atau tidak?

Sebuah pertanyaan krusial muncul dalam diskusi malam ini: Bagaimana mungkin kita bisa mendeteksi kesalahan dalam tulisan kita jika kita sendiri tidak tahu di mana letak kesalahannya? Pak D menjelaskan bahwa kemampuan mengenali kesalahan tidak datang secara tiba-tiba, melainkan melalui dua pilar utama berikut:

1. Memiliki Pengetahuan yang Memadai tentang Struktur Kalimat dan EYD

Senjata utama seorang penulis saat menyisir tulisannya adalah pemahaman terhadap aturan bahasa. Kita harus membekali diri dengan pengetahuan yang cukup mengenai:

·         Struktur Kalimat yang Benar: Memastikan setiap kalimat minimal memiliki subjek dan predikat (S-P) agar tidak menggantung atau membingungkan.

·         Ejaan yang Disempurnakan (EYD): Memahami aturan penggunaan huruf kapital, penulisan kata depan (seperti di- yang dipisah atau digabung), serta penulisan kata baku berdasarkan KBBI.

Tanpa fondasi pengetahuan EYD yang kuat, mata kita akan kesulitan melihat kesalahan yang ada pada draf.

2. Melakukan Swasunting (Self-Proofreading)

Setelah membekali diri dengan ilmu tata bahasa, langkah mutlak yang harus dilakukan oleh seorang penulis mandiri adalah Swasunting. Swasunting berarti kita mengambil peran sebagai "hakim" bagi tulisan kita sendiri. Kita membaca ulang karya kita dengan kacamata yang objektif dan kritis seolah-olah sedang membaca tulisan orang lain untuk berburu typo dan kesalahan logika kalimat.

Tips Praktis Melakukan Proofreading

Bagi kita yang ingin melatih ketajaman dalam memeriksa tulisan sendiri, berikut adalah beberapa tips tambahan yang bisa diterapkan:

1.      Endapkan Tulisan (Beri Jeda): Jangan langsung melakukan proofreading sesaat setelah tulisan selesai. Beri jeda minimal beberapa jam atau satu hari agar pikiran kita segar kembali dan tidak lagi "hafal" dengan isi tulisan sendiri.

2.      Baca dengan Bersuara (Read Aloud): Membaca draf dengan suara lantang akan membantu telinga kita mendeteksi kalimat-kalimat yang rancu, terlalu panjang, atau tanda baca koma yang letaknya tidak pas.

3.      Periksa per Jenis Kesalahan: Lakukan penyisiran bertahap. Tahap pertama fokus mencari typo, tahap kedua fokus memeriksa tanda baca, dan tahap ketiga memastikan konsistensi penggunaan kata baku.

Alat Bantu (Tools) Untuk Proofreading

Di era digital saat ini, banyak penulis bertanya-tanya: Aplikasi khusus apa yang wajib kita miliki untuk membantu proses proofreading? Menariknya, Pak D membagikan pandangan yang sangat membumi dan realistis mengenai hal ini. Beliau secara pribadi tidak menggunakan aplikasi khusus yang rumit.

Berikut adalah beberapa alat bantu yang bisa kita optimalkan, lengkap dengan catatan penting dalam penggunaannya:

1. Fitur Pemeriksa Ejaan Bawaan (Built-in Spell Checker)

Kita bisa memanfaatkan fitur bawaan yang ada di media menulis sehari-hari, seperti Google Docs atau Microsoft Word. Meskipun deteksi otomatis dari Google Docs sering kali kurang pas atau keliru dalam membaca konteks kalimat bahasa Indonesia, fitur garis bawah merah (peringatan) tersebut sangat berguna. Kehadiran tanda itu setidaknya membuat kita menjadi lebih waspada dan memicu kita untuk mengulik serta memeriksa kembali bagian yang dianggap salah.

2. Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI)

Bolehkah kita menggunakan kecerdasan buatan seperti Gemini, ChatGPT, atau sejenisnya untuk proofreading atau bahkan editing?

Jawabannya: Boleh saja. AI sangat andal dan cepat untuk menangkap kesalahan-kesalahan dasar seperti typo, salah ejaan, atau kalimat yang kurang efektif. Namun, ada catatan mutlak yang harus diingat: AI hanyalah alat bantu. Perbaikan tahap akhir dan keputusan final tetap kembali pada profesionalitas serta rasa bahasa dari masing-masing penulis.

Sebelum melepas draf ke AI, penguasaan kita terhadap struktur kalimat bahasa Indonesia dan pungtuasi (penggunaan EYD) yang tepat tetap menjadi modal utama. Jika kita tidak paham EYD, kita tidak akan tahu apakah hasil perbaikan AI tersebut sudah benar atau justru malah merusak makna tulisan kita.

3. Aplikasi Halo Bahasa

Aplikasi resmi dari Badan Bahasa Kemendikbud ini sebenarnya merupakan rujukan yang sangat bagus untuk mengecek kebahasaan, meskipun terkadang ada momen di mana sistemnya sedang mengalami gangguan teknis.

 

Penutup

Sesi penutup KBMN Gelombang 34 pertemuan 12 malam ini meninggalkan kesan yang mendalam bagi kita semua. Menulis memang membutuhkan keberanian untuk memulai, namun melahirkan karya yang berkualitas membutuhkan ketelitian dalam merawatnya.

Terima kasih kepada Pak D dan Bunda Lely atas ilmu Proofreading yang luar biasa malam ini. Mari kita tutup kelas belajar ini dengan satu komitmen kuat: teruslah melahirkan karya, rapikan  dengan penuh cinta, dan biarkan tulisan kita menemukan pembacanya.

 

Resume KBMN 34

Pertemuan ke-12

salam literasi!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jambore GTK Hebat 2025: Mendorong Transformasi Pendidikan di Pandeglang

Cerita Nimas dalam Jambore GTK Hebat 2025 Tingkat Kabupaten Pandeglang

"Road to Jombang: Demi Wisuda Anak, Eh Malah Ketemu "Jodoh" Obrolan di Pojok Baca!