RESUME KE-7 KBMN 34 BERSAMA RATU DIKSI TIPS DAN TRIK ATASI WRITER’S BLOCK

 

RESUME KE-7 KBMN 34 BERSAMA PAK MULIADI

TIPS DAN TRIK ATASI WRITER’S BLOCK

OLEH: IMAS MASITOH, S.Pd.SD

HARI TANGGAL: SENIN, 4 MEI 2026

NARASUMBER: MULIADI, S.Pd., M.Pd

MODERATOR: PURBANIASITA KUSUMANING SEDYO, S.Pd

 

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang rutin (konsisten) dilakukan meskipun sedikit."

(HR. Bukhari dan Muslim)


“Sebenarnya musuh terbesar penulis itu bukan ide yang habis, tapi keinginan untuk langsung jadi sempurna.”_ Muliadi

Malam ini, Senin, 4 Mei 2026 aura semangat untuk kembali belajar menulis di KBMN gelombang 34 semakin berkobar. Kami akan belajar bersama narasumber hebat dan dipandu moderator  yang luar biasa denagn materi “MENGATASI WRITER'S BLOCK” .  Beliau adalah narasumber dengan segudang pengalaman dalam profesi dan prestasi luar biasa di bidang literasi.

Beliau bernama Muliadi, S. Pd, M. Pd.,  seorang Kepala Sekolah di salah satu SMK Negeri 1 Galang Tolitoli. Kiprahnya di dunia literasi telah menghasilkan 1 buku solo dan 7 buku antologi. Selain itu beliau juga aktif menulis di kompasiana. Luar biasa…

Di awal materi, beliau menjelaskan bahwa menulis itu adalah sebuah keterampilan, dia lahir dari kebiasaan yang diulang-ulang secara konsisten. Hal yang sama diungkapkan oleh OmJay, seorang guru blogger sekaligus founder KBMN yang sangat terkenal. Beliau memberikan mantra “ Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.”

 

1.     Memahami Writer's Block

Menjadi penulis hebat bukan berarti tidak pernah kehilangan ide. Tantangan terbesar bukanlah ketiadaan bakat, melainkan bagaimana kita mengelola situasi saat ide "macet."

Writer's Block (WB) adalah kondisi saat kita memiliki keinginan untuk menulis, namun ide seolah hilang, bingung memulai, atau terus-menerus menghapus kalimat yang baru diketik.

Hal yang sering dialami oleh penulis misalnya saat buka laptop niat nulis eh  malah buka YouTube. Baru mau nulis, tiba-tiba lapar. Daannn besoknya belum nulis juga. Hmmm… siapa yang suka begini? Aku ternyata. Hehe…

Writer’s Block itu kondisi saat kita pengen nulis, tapi ide hilang, bingung mulai dari mana, satu kalimat dihapus lagi, lalu menatap layar kosong seperti menatap masa depan.

Writer's block tidak selalu berarti kepala kita kosong tanpa ide. Seringkali, ia justru datang dalam bentuk "Ide yang Macet": Kita punya segudang gagasan di kepala, tapi "pipa" penyalur ke jemari kita tersumbat

Nah, kalau ketemu kondisi seperti itu, jangan buru-buru panik. Santai... ini normal. Banyak penulis juga mengalami hal yang sama. Bahkan sehebat Dee Lestari , seorang penulis hebat dengan banyak karya fenomenal. Penulis Supernova ini mengakui sering mengalami kebuntuan panjang. Andrea Hirata, Tere Liye semua pernah mengalami Writer's block. Apalagi aku ya, penulis pemula yang baru bisa “eleng-eleng”. Hehe.. Bedanya, para penulis hebat itu tidak mudah menyerah. Mereka segera berusaha mengatasinya, dan kembali pada jalur menulisnya.

2.     Mengapa Writer’s Block Bisa Terjadi?

Writer's block itu hadir tak diundang pada aktivitas menulis kita? Ini biasanya disebabkan oleh hal-hal berikut:

1.      Takut tulisan jelek. Kita sering menghakimi diri sendiri. Selalu mau sempurna. Takut tulisan jelek. Kondisi ini bukannya membantu tulisan makin lancar, tetapi justru bisa stack (buntu).

2.      Kebanyakan mikir. kadang-kadang kita kebanyakan mikir: Lebih lama mikirin teori daripada eksekusi. Akibatnya tulisan macet.

3.      Nunggu mood datang. Padahal menulis itu soal kedisiplinan, bukan sekadar perasaan. Nah, ini yang sering juga menjadi alasan

4.      Capek. Tubuh lelah, ditambah energi habis setelah melaksanakan berbagai kesibukan.

5.      Sibuk scrolling medsos. Ini akibat kepo postingan orang lain. 

6.      Bandingin diri sama penulis lain. Merasa tulisan orang lain lebih hebat, lebih banyak, lebih sempurna, dan seterusnya, akhirnya minder duluan.

 

3.     Strategi Melawan Writer's Block

Writer’s block tidak boleh dibiarkan berlama-lama. Berikut strategi untuk mengatasinya:

1.      Tulis saja dulu, jelek tidak apa-apa: Jangan pikirkan kualitas draf. Biarkan ide mengalir tanpa beban.

2.      Jangan edit saat baru mulai. Jangan hapus kalimat saat baru mulai. Selesaikan sampai akhir, baru lakukan perbaikan kemudian.

3.      Pakai timer 10 menit. Pasang timer, fokus menulis apa saja tanpa gangguan selama 10 menit.

4.      Jauhkan HP sebentar. matikan notifikasi agar fokus tidak terpecah.gunakan mode pesawat.

5.      Mulai dari cerita yang paling gampang, sederhana dan ceritakan apa yang ada di sekitar kita, tidak perlu berat-berat, tulis saja apa yang sedang dilihat atau dirasakan sekarang.

6.      Menulis sedikit tapi rutin lebih baik daripada sekali menulis langsung banyak. : Lebih baik 3 kalimat setiap hari daripada 3 halaman tapi cuma setahun sekali

7.      Tulis saja dulu: Jangan dipikir bagus atau jelek, yang penting drafnya keluar dulu, Gunakan Teknik "Tumpahkan Saja". Jangan paksa ide tersebut menjadi kalimat yang indah

8.      Tulis dalam bentuk poin-poin atau coretan kasar (mind mapping) terlebih dahulu. Jangan pedulikan tata bahasa atau tanda baca. Pokoknya tulis saja dulu. Ambil kertas kosong, tulis ide utama di tengah, lalu tarik garis untuk ide-ide turunannya. Ini membantu memvisualisasikan ide yang tadinya "bertabrakan" di kepala menjadi lebih teratur.

9.      Gunakan Teknik "Free Writing" (Menulis Bebas). Selama 10 menit, tuliskan apa saja yang ada di kepala kita tanpa peduli titik koma, salah ketik, atau apakah kalimatnya nyambung atau tidak.

 

4.     Writer’s Block vs. Burnout

Burnout dan Writer's Block sama-sama bikin "mogok" menulis. Akar masalah dari keduanya berbeda. Writer's Block sendiri merupakan kondisi di mana penulis punya energi tetapi kehilangan ide atau cara menuangkannya. Sedangkan burnout, ini kondisi dimana penulis kelelahan secara mental, emosional, dan fisik. Bukan berarti  malas menulis, tetapi merasa lelah hanya dengan melihat laptop. Burnout biasanya terjadi karena kita terlalu memaksakan diri, kurang istrahat, atau terlalu banyak tuntutan.

Mengatasi Writer's Block: Fokus pada stimulasi kreatif, coba teknik free writing, ganti suasana tempat menulis, atau baca referensi baru untuk memicu ide. Atau jalan-jalan di sekitar rumah menikmati suasana yang tenang.

Sedangkan jika ingin mengatasi Burnout, harus fokus pada pemulihan diri. Berhenti menulis sementara. Istirahat total, tidur yang cukup, dan lakukan hobi lain di luar menulis sampai "tangki" energi terisi kembali. Jangan dipaksa, karena paksaan saat burnout justru bisa membuat benci menulis selamanya.

 

 

 

 

 

Pesan Penutup untuk Penulis

Menulis yang jujur dari hati akan menemukan pembacanya sendiri. Kritik bukanlah penghalang, melainkan cermin untuk memperbaiki kualitas karya.

Bagi seorang penulis, tidak semua orang suka dengan tulisan kita. Anggap itu sebagai api pemantik untuk menjadikan kritik sebagi cermin untuk bangkit, membangun kembali semangat dan menjadi cambuk motivasi untuk memperbaiki tulisan kita. Ingat, tulisan yang jujur dari hati akan menemukan sendiri pembacanya. Jadi fokus saja pada peningkatan kualitas karya kita.

"Seorang penulis tidak diukur dari berapa banyak orang yang memujinya, tapi dari seberapa sering ia bangkit setelah tulisannya dihujat. Jangan berhenti menulis, karena berhenti adalah kekalahan yang sebenarnya"

Salam Literasi

Salam Persahabatan

Resume KBMN 34

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jambore GTK Hebat 2025: Mendorong Transformasi Pendidikan di Pandeglang

Cerita Nimas dalam Jambore GTK Hebat 2025 Tingkat Kabupaten Pandeglang

"Road to Jombang: Demi Wisuda Anak, Eh Malah Ketemu "Jodoh" Obrolan di Pojok Baca!