RESUME KE-8 KBMN 34 BERSAMA RAHASIA MEMIKAT HATI DENGAN KEKUATAN DIKSI
RESUME
KE-8 KBMN 34 BERSAMA RATU DIKSI
RAHASIA MEMIKAT HATI
DENGAN KEKUATAN DIKSI
OLEH:
IMAS MASITOH, S.Pd.SD
HARI
TANGGAL: RABU, 8 MEI 2026
NARASUMBER:
MAESAROH., M.Pd
MODERATOR:
MUTHMAINAH, M.Pd
Rabu malam, 6 Mei 2026
menjadi momen yang tak terlupakan di linimasa KBMN Gelombang 34. Suasana
pertemuan virtual kali ini terasa berbeda—seolah bertabur bintang dan dipenuhi
energi kreatif yang meluap. Bagaimana tidak? Malam itu kami dipandu oleh
moderator kawakan, Bunda Muthmainah, yang membuka ruang diskusi dengan
pembacaan puisi berbalut diksi yang sangat mendalam.
Tak berselang lama,
suasana semakin "panas" namun elegan ketika sang narsum, Bunda
Maesaroh, M.Pd, hadir di tengah-tengah kami. Dijuluki sebagai "Ratu
Diksi", setiap untaian kata yang beliau rangkai benar-benar membuat
siapa pun yang membaca akan "klepek-klepek". Terjadi aksi saling
balas puisi antara moderator dan narsum yang penuh dengan "umpan"
kata-kata indah membuat kita berada di antara rasa kagum dan usaha keras untuk memahami
kedalamannya. Sungguh luar biasa!
Apa Itu Diksi?
Mungkin banyak yang bertanya, mengapa kita terus membahas diksi? Bagi saya,
trik mudah untuk mengingatnya adalah dengan menghubungkannya pada Fiksi.
Diksi adalah napas bagi karya fiksi seperti novel, cerpen, maupun drama.
Secara definisi, sesuai
materi yang disampaikan oleh Bu May, diksi adalah padanan kata yang dipilih
untuk memberikan kesan estetik dalam sebuah kalimat. Sejarah mencatat bahwa
Aristoteles-lah yang memperkenalkan konsep ini sebagai sarana menulis indah dan
berbobot dalam gagasannya yang disebut Poetics. Kita juga mengenal
William Shakespeare, sang maestro yang kepiawaiannya dalam menyajikan diksi
dalam drama belum tertandingi hingga kini.
4 Jurus Jitu Mengembangkan Diksi (The Power
of Imagery)
Agar tulisan kita tidak terasa "hambar" dan mampu menghidupkan
imajinasi pembaca, Bunda Maesaroh membagikan jurus melalui pemanfaatan indera (imagery):
1. Sense
of Touch (Indera Peraba): Gunakan sensasi sentuhan, seperti dinginnya
embun, halusnya sutra, atau kasarnya kulit kayu untuk memperkaya deskripsi.
2. Sense
of Smell (Indera Penciuman): Hadirkan aroma dalam tulisan. Bau tanah
setelah hujan atau harum kopi di pagi hari bisa memicu kenangan emosional bagi
pembaca.
3. Sense
of Taste (Indera Perasa): Ceritakan rasa di lidah. Rasa pahit yang getir
atau manis yang legit bisa membantu pembaca ikut merasakan suasana yang kita
bangun.
4. Sense
of Hearing (Indera Pendengaran): Hidupkan suasana melalui bunyi, suara,
bahkan keheningan, sehingga pembaca seolah mendengar apa yang terjadi dalam
cerita.
Bakat atau Kebiasaan?
Sebuah pertanyaan menarik muncul dari peserta: Dari mana bakat menulis
dengan diksi memukau itu berasal?
Jawaban Bunda Maesaroh sangat memotivasi. Ternyata, kemampuan itu bukan sekadar
bakat lahir, melainkan buah dari kebiasaan membaca sejak masa sekolah.
Beliau sangat gemar melahap cerpen dan novel dari penulis ternama. Dari sanalah
perbendaharaan kata itu terkumpul sedikit demi sedikit hingga menjadi
"tabungan" diksi yang melimpah.
Kesimpulan: Jangan Berhenti Belajar
Menguasai diksi adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan akhir. Kita akan
mahir jika kita terus belajar, banyak membaca karya orang lain, dan tidak ragu
untuk mencoba berbagai gaya bahasa. Ingat, kelihaihan menulis dimulai dari
ketekunan membaca.
Mari terus berkarya dan biarkan kata-kata kita menemukan takdirnya sendiri!
Salam Literasi,
Resume Materi KBMN 34

Komentar
Posting Komentar