Resume Kelas Perdana KBMN 34 Bersama Bunda Kanjeng:Menulis Bukan Bakat, Tapi Tekad

 

Resume Kelas Perdana KBMN 34 Bersama Bunda Kanjeng

Menulis Bukan Bakat, Tapi Tekad

Oleh: Imas Masitoh, S.Pd. SD

Senin, 20 April 2026



Malam ini, Senin, 20 april 2026, semangat literasi peserta KBMN PGRI Gelombang 34 benar-benar dibakar oleh api inspirasi. Kelas perdana ini menghadirkan sang maestro literasi Nasional, Dr. Sri Sugiastuti atau yang akrab disapa Bunda Kanjeng. Didampingi oleh Om Jay, beliau membagikan perjalanan dan jurus-jurus menulis yang sangat membekas di hati.

Meskipun beliau sempat merasa "terlambat" belajar menulis, jiwa tangguhnya membuktikan bahwa tidak ada kata terlambat dalam berkarya. Cerita perjalanan beliau bagaikan api yang membakar semangat kami, para pejuang literasi untuk mulai menggerakkan jemari di atas papan tik.

Berikut adalah rangkuman materi penuh gizi dari beliau:

1.      Menulis Adalah Keterampilan, Bukan Sekedar Bakat

Bunda Kanjeng dengan tegas menyatakan bahwa mitos "menulis harus punya bakat" harus dimusnahkan. Menulis adalah sebuah keterampilan. Sama seperti belajar naik sepeda, semakin sering kita berlatih dan menambah jam terbang, maka kita akan semakin mahir. Jangan menunggu bakat turun dari langit; jemputlah ia dengan latihan yang konsisten. Jadi, kuncinya bukan pada garis tangan,melainkan pada latihan yang terus-menerus.

 

2.      Musuh Terbesar Adalah Diri Sendiri

Beliau mengingatkan bahwa hambatan utama bukanlah kurangnya ide, melainkan rasa tidak percaya diri, takut salah, atau takut tidak ada yang membaca. Bunda menyebut alasan-alasan ini sebagai "lagu lama nada usang". Solusinya: Menulislah sesuai passion dan apa yang kita kuasai. Gunakan Kata Kunci "Mengapa": Alasan (Why) yang kuat untuk menulis akan membuat kita tetap konsisten meski rintangan menghadang.

3.      Menjaga Semangat Menulis Bersama Komunitas

Menulis bisa menjadi perjalanan yang sunyi, maka kita butuh komunitas untuk tetap fokus. Bunda Kanjeng mengingatkan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama. Menulis adalah amal jariyah berupa ilmu yang akan terus mengalir meskipun penulisnya telah tiada. Jadi, belajarlah dari proses para penulis hebat dunia seperti J.K. Rowling, Andrea Hirata, hingga Pramoedya Ananta Toer. Ingatlah, tulisan pertama Anda tidak harus langsung sempurna! Semuanya butuh proses dan proses itulah yang harus kita nikmati.


4.      Teknik Jitu Menulis

 Pada pertemuan perdana ini, beliau membagikan teknik jitu menulis untuk pemula, diantaranya:

Pertama, Free Writing, artinya menulislah sebebas-bebasnya, biarkan ide mengalir tanpa perlu takut salah tata bahasa di awal.

Kedua, Storytelling. Anggaplah Anda sedang mengobrol santai dengan pasangan, teman, atau anak agar tulisan tidak terasa kaku.

Ketiga, gunakan rumus 15 Menit: Cukup luangkan waktu 15 menit setiap hari secara konsisten untuk menulis.

 

5.      Menangkap Ide dan Proses Kreatif

Ide ada di mana-mana. Bagi Bunda Kanjeng, ide sering muncul saat menjadi pendengar yang baik, saat tadabbur alam, mengikuti taklim, hingga membaca komentar di media sosial. Setelah ide didapat, gunakan kerangka 5W + 1H untuk mempertajam. Konsepnya: Apa yang mau ditulis?, Siapa pembacanya?, Mengapa tema ini penting?

Sesi Tanya Jawab: Solusi Atas Keraguan Penulis Pemula

Dalam sesi diskusi, muncul sebuah pertanyaan menarik dari salah satu peserta yang ternyata mewakili kegelisahan banyak peserta lain. Menanggapi keraguan tersebut, Bunda Kanjeng memberikan arahan yang sangat memotivasi:

·     Terus Menulis Tanpa Henti: Bunda menyarankan agar apa pun jenis tulisan yang disukai, baik itu opini, cerpen, puisi, atau genre lainnya, teruslah ditulis dan dikumpulkan. Tulisan tidak boleh berhenti hanya di tangan penulisnya saja.

·  Manfaatkan Platform Digital: Beliau mendorong peserta untuk mulai berani memublikasikan karya di blog keroyokan seperti Kompasiana atau platform sejenisnya. Ini adalah langkah awal agar tulisan kita bertemu dengan pembacanya.

·    Langkah Menuju Buku: Bagi yang ingin membukukan karyanya, Bunda menekankan pentingnya memahami segmen pembaca dan kebutuhan pasar. Beliau bahkan memberikan tawaran konsultasi pribadi (japri) bagi peserta yang ingin serius membawa draf mereka ke penerbit, terutama bagi yang ingin mencetak dalam jumlah kecil. Wah… luar biasa. Totalitas sekali.

"Jangan patah semangat. Tulisan itu tidak boleh berhenti hanya di penulisnya saja. Harus ada keberanian untuk membagikannya kepada dunia." -- Bunda Kanjeng

Kesimpulan: tips 3M

Sebagai Penutup, bunda Kanjeng memberikan tips pamungkas bagi siapa saja yang ingin jadi penulis, yaitu: Menulis, Menulis, dan Menulis!

Mari kita gerakkan jemari dan mulai berkarya saat ini juga!

Bismillah!

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jambore GTK Hebat 2025: Mendorong Transformasi Pendidikan di Pandeglang

Cerita Nimas dalam Jambore GTK Hebat 2025 Tingkat Kabupaten Pandeglang

"Road to Jombang: Demi Wisuda Anak, Eh Malah Ketemu "Jodoh" Obrolan di Pojok Baca!