Gema Rindu Ramadhan
Gema Rindu Ramadhan
Ramadan, mengapa begitu lekas langkahmu menjauh?
Meninggalkan aku yang masih bersimpuh dalam rindu yang luruh.
Malam-malam kini kembali sunyi,
Memeluk sepi yang kian riuh,
Sebab tadarus dan syahdu mengaji,
Tak lagi terdengar menyentuh.
Tak ada lagi tawa bocah yang berlarian hingga fajar menyapa,
Menghiasi pelataran masjid dengan ceria yang tanpa jeda.
Aku masih terpaku di sini, merajut rindu yang tak kunjung reda,
Menanti kapan kiranya kita kembali bersua dalam pelukan doa.
Di sudut sajadah yang mulai mendingin
Aku mencari sisa-sisa wangi surga yang kau bawa
Kini hanya hembusan angin yang tersisa
Membawa pergi riuh rendah doa-doa yang sempat bertahta.
Lentera menara masjid seolah meredup layu
Kehilangan hangatnya barisan shaf yang menyatu.
Kini malam kembali pada pelukan sunyi yang biru
Meninggalkan aku dalam dekap rindu yang kian menderu.
Piring-piring tak lagi berdenting di kala sahur
Gelas-gelas pun membisu, tak lagi menyentuh bibir yang syukur
Ada ruang hampa yang kini mulai mengukur
Betapa berharganya detik-detik saat iman sedang subur.
Engkau adalah tamu yang datang membawa permata
Namun aku sering lalai, hanya terpukau pada binar mata
Kini saat punggungmu menjauh di ufuk cakrawala
Barulah sesal menyesak dada, menjadi air mata yang renta.
Wahai bulan yang merangkul segala khilaf dan dosa
Izinkan jiwaku tetap memegang sisa-sisa cahaya
Jangan biarkan hatiku kembali membatu di tengah fana
Setelah kau siram dengan sejuknya embun istighfar yang nyata.
Sampaikan pada Sang Pemilik Waktu yang Abadi
Catatlah namaku dalam daftar hamba yang kau rindu kembali
Semoga langkahku tak terhenti di gerbang Idul Fitri
Hingga kita bersua lagi, di pelataran Ramadan yang suci nanti.

Komentar
Posting Komentar