Cerita Nimas di malam ke-11 Ramadhan

Cahaya di Malam ke-11: Perjalanan Mengantar Keajaiban Kecil ke Cibaliung

Malam ke-11 Ramadan tahun ini terasa sangat berbeda. Bukan tentang bisingnya pasar takjil atau syahdunya tadarus di masjid dekat rumah, melainkan tentang sebuah perjalanan panjang yang dipenuhi rasa syukur. Malam ini, Nimas masih berada di balik kemudi, menembus aspal yang membelah kegelapan, membawa pulang sejuta cerita dari RSUD Banten menuju Cibaliung.

Perjalanan ini dimulai pukul 13.30 siang dari Pandeglang. Tujuannya satu, menjemput adik ipar dan anggota keluarga baru kami yang telah dinanti. Tepat pukul 15.00, kami tiba di RSUD Banten. Di sana, ayah dari adik ipar Nimas sudah bersiap di pintu keluar, merapikan barang-barang dengan raut wajah yang tak bisa menyembunyikan binar bahagia.

Momen paling magis adalah saat saya pertama kali menggendong bayi mungil itu. Seorang anak perempuan yang cantik dan lucu. Di tengah lelahnya berpuasa, kehadirannya seperti energi baru yang seketika menghapus dahaga. Terlebih Nimas belum punya anak perempuan 🤭. Keempat anak Nimas semuanya laki-laki gagah. Serasa gimana gitu....

Kami melanjutkan perjalanan menuju Cibaliung. Waktu tempuh yang cukup lama membuat azan Maghrib berkumandang saat kami masih di jalan. Kami memutuskan berbuka sekadarnya, karena rumah sudah tinggal beberapa jengkal lagi.

Setibanya di rumah adik ipar, sambutan hangat langsung terasa. Takjil manis telah tersedia. Getuk gula aren dengan aroma yang khas, kue balok, tempe mendoan plus sambal serta buah-buahan segar yang menggoda. 

Kami tak lama di rumah adik ipar. Lanjut ke rumah kakak iparku. " Wa Iyah" sapaan hangat yang sering kami ajarkan ke anak-ana. Kami diarahkan untuk menunaikan salat Maghrib terlebih dahulu di rumahnya agar sesi makan nanti bisa dinikmati dengan lebih tenang dan fokus.

 "Kunci dari nikmatnya makan bersama bukan hanya pada menunya, tapi pada ketenangan hati setelah menunaikan kewajiban."

Karpet lesehan sudah penuh dengan "amunisi" penggugah selera. Sambal pedas, lalapan segar, sayur, dan deretan lauk pauk. Di sela-sela suapan, cerita sepanjang perjalanan tadi berubah menjadi obrolan hangat yang memicu kehangatan. Suasana kekeluargaan seperti inilah yang selalu membuat saya rindu untuk kembali ke Cibaliung

Malam terus bergulir. Selepas Isya dan Tarawih, keluarga besar berkumpul di kediaman "Wa Iyah". Obrolan mengalir tanpa sekat, mempererat ikatan yang mungkin sempat renggang karena kesibukan masing-masing.

Namun, waktu jualah yang memaksa kami untuk berpamitan. Mengingat tumpukan pekerjaan yang sudah menanti di rumah, kami harus segera bergegas kembali. 

Saat tulisan ini saya ketik, mesin kendaraan masih menderu, membelah malam yang semakin larut diiringi alunan mikra di masjid di sepanjang perjalanan. 

Perjalanan pulang mungkin masih panjang, namun hati saya terasa ringan karena telah mengantar sebuah kebahagiaan sampai ke pintu rumahnya.

Mohon doanya dari teman-teman pembaca semua, semoga perjalanan kami lancar, selamat sampai tujuan, dan kita semua diberikan umur yang panjang untuk menikmati keberkahan Ramadan-Ramadan berikutnya.

Selamat menjalankan ibadah di sisa sepuluh kedua Ramadan!

 "Apa momen paling berkesan bagi teman-teman di Ramadan tahun ini?"

Nimas

Salam literasi 

Salam persahabatan 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jambore GTK Hebat 2025: Mendorong Transformasi Pendidikan di Pandeglang

Cerita Nimas dalam Jambore GTK Hebat 2025 Tingkat Kabupaten Pandeglang

"Road to Jombang: Demi Wisuda Anak, Eh Malah Ketemu "Jodoh" Obrolan di Pojok Baca!