Menabung Rindu di Jombang

Masih dalam suasana post-graduation glow, liburan kali ini terasa sangat spesial. Pagi itu, udara Jombang masih terasa sejuk saat kami sekeluarga sudah memulai "misi" hari itu. Rasanya ada energi lebih setelah melihat anak-anak berhasil menyelesaikan satu fase pendidikan mereka. Begitu alarm subuh berkumandang, kami langsung sat-set: sholat, mandi, dan langsung cuss keluar mencari sarapan.

Lupakan sejenak nasi pecel yang jadi primadona lokal. Pagi ini, pilihan kami jatuh pada nasi kuning. Menariknya, suapan pertama nasi kuning ini langsung membawa memori saya pulang ke Pandeglang. Rasanya homey banget, persis seperti rasa nasi kuning di tanah kelahiran. Benar ya kata orang, rasa itu bisa jadi mesin waktu!

Kehangatan di Kediaman KH. Lukman

Setelah perut terisi, tujuan utama kami adalah sowan ke rumah KH. Lukman. Beliau adalah sosok yang luar biasa, orang Pandeglang yang kini menetap di Jombang. Semua anaknya sudah sukses.  Bagi masyarakat Banten yang sedang berkunjung ke wilayah Tebuireng, rumah beliau sudah dianggap seperti dermaga tempat bersandar, entah untuk menginap atau sekadar menyambung tali silaturahmi.

Begitu kaki melangkah masuk, kami disambut dengan senyuman yang begitu tulus. Di atas meja tamu, teh manis hangat dan deretan kue sudah tertata rapi, seolah memang sudah menanti kedatangan kami. Namun, yang bikin hati (dan perut) makin tersentuh adalah saat beliau menawarkan Rawon. Harum kuah kluweknya yang khas langsung memenuhi ruangan. Sepertinya rawon ini memang sengaja disiapkan spesial untuk menyambut tamu. Keramahan yang begitu tulus seperti ini benar-benar bikin terharu.

Museum Date: Napak Tilas Sang Ulama

Setengah jam mengobrol hangat, kami pun pamit karena waktu terus berjalan. Destinasi selanjutnya adalah Museum Islam Indonesia KH. Hasyim Asy'ari.

Sebenarnya bagi kedua anak saya, museum ini sudah seperti "rumah kedua" karena seringnya mereka ke sini. Tapi kali ini mereka ingin jadi tour guide pribadi buat Mamahnya. "Spesial buat Mamah, biar nggak penasaran lagi sama isinya," seloroh mereka.

Di pelataran museum, logo besar menyambut kami. Momen yang terlalu bagus untuk dilewatkan tanpa foto bersama. Mengingat kami jarang bisa berkumpul lengkap, setiap jepretan kamera terasa begitu berharga. Kami masuk dan menjelajahi setiap sudut. Mulai dari berfoto di depan Bedug Ijo yang legendaris, hingga meresapi aura di ruang Gus Dur dan ruang KH. Hasyim Asy'ari.

Memang ada sedikit rasa sayang karena lantai dua sedang dalam tahap perawatan sehingga aksesnya ditutup. Tapi tidak apa-apa, justru ini jadi alasan biar kami bisa kembali lagi nanti!

Nobar yang Tak Terduga

Kejutan manis terjadi saat kami berpindah ke area lain. Kedatangan kami bertepatan dengan rombongan anak-anak TK dan SD yang hendak menonton film. Kami pun ditawari untuk ikut Nobar (nonton bareng). Si bungsu langsung semangat bukan main!

Kami disuguhi film kartun yang mengangkat tema mitos daerah Jawa. Ceritanya dikemas sangat apik, mengajarkan anak-anak untuk tetap menghargai dan mencintai tradisi leluhur di tengah zaman yang makin modern. Sebuah pesan yang sangat dalam namun disampaikan dengan cara yang menyenangkan.

Sebuah Doa untuk Masa Depan

Menutup perjalanan hari ini, ada doa yang Nimas selipkan dalam hati. Semoga tahun depan, langkah kaki ini bisa kembali lagi ke tanah penuh berkah ini. Nimas ingin kembali menyaksikan momen haru di acara wisuda kedua putra kebanggaan Nimas. Aa Kiki, si sulung yang "sedap manis", dan Aa Ammar, si tengah yang "mempesona".

Terima kasih Tebuireng untuk ceritanya hari ini. Sampai jumpa di wisuda berikutnya! Aamiin ya Allah.

Nimas 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jambore GTK Hebat 2025: Mendorong Transformasi Pendidikan di Pandeglang

Cerita Nimas dalam Jambore GTK Hebat 2025 Tingkat Kabupaten Pandeglang

"Road to Jombang: Demi Wisuda Anak, Eh Malah Ketemu "Jodoh" Obrolan di Pojok Baca!