Hari-hari di Mina: Melontar Jumrah Lanjutan dan Kelelahan yang Terbayar
Hari-hari di Mina: Melontar Jumrah Lanjutan dan Kelelahan yang Terbayar
Setelah sukses melontar Jumrah Aqabah pada tanggal 10 Dzulhijjah, kami tidak kembali ke tenda Mina. Sebagian besar jamaah Indonesia bertanazul sebagai bagian dari kemudahan yang telah disediakan oleh pengaturan haji, kami melanjutkan perjalanan langsung menuju maktab (hotel) di Makkah. Sebuah keputusan yang bijak, mengingat betapa lelahnya raga ini setelah perjalanan panjang dari Arafah, Muzdalifah, dan kini Mina.
Perjalanan dari Jamarat kembali ke maktab
(hotel) terasa cukup panjang, namun kami bersyukur sekali jaraknya masih bisa
dijangkau dengan berjalan kaki. Di musim haji seperti ini, tidak ada layanan
bus sholawat yang beroperasi untuk rute antara Jamarat dan maktab. Semua jamaah
harus berjalan kaki, mengandalkan kekuatan diri dan kesabaran. Setiap langkah
terasa berat, namun hati tetap dipenuhi rasa syukur. Pemandangan jutaan manusia
yang berjalan bersama, dengan pakaian ihram yang sama, memberikan pemandangan
persatuan yang tak terlupakan. Semua sama di hadapan Allah SWT.
Tiba di maktab, yang pertama kali kurasakan
adalah kelegaan yang luar biasa. Aku segera beristirahat, merebahkan tubuh yang
rasanya sudah lama tidak bersentuhan dengan kasur empuk. Kaki dan punggung
terasa pegal linu, namun semua itu terbayar lunas dengan rasa syukur yang
mendalam. Akupun tidur dengan nyenyak, memulihkan energi untuk melanjutkan
ritual haji berikutnya sampai menjelang waktu Dzuhur, makan siang dan mempersiapkan
untuk pergi ke Mina lagi setelah solat Ashar.
Masih di tanggal 10 Dzulhijjah setelah sholat Ashar, kami kembali ke Mina untuk mabit sampai pukul dua belas malam lewat atau sekitar setengah satu dini hari. Setelah itu kembali ke maktab untuk istirahat dan tidur.
Sore hari, pada 11 Dzulhijah setelah sholat Ashar kami kembali ke Mina untuk lempar jumroh. Kali ini, ritual melempar jumrah akan dilakukan di tiga tempat: Jumrah Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah Aqabah. Setiap jumrah dilemparkan sebanyak 7 kali, sehingga total 21 batu yang harus dilemparkan. Setelah selesai, kami melakukan mabit dulu di Mina sampai jam 12 malam lewat kemudian kembali ke maktab untuk beristirahat, memulihkan tenaga dan mempersiapkan diri karena setelah sholat Shubuh harus berangkat lagi ke Mina untuk lempar jumroh lagi. Hal yang sama juga kami lakukan pada tanggal 12-13 Dzulhijah. Berangkat setelah sholat Ashar untuk mabit di Mina dan setelah shubuh melaksanakan lempar jumroh.
Pada tanggal 12 Dzulhijjah, kami kembali melontar ketiga
jumrah tersebut dengan jumlah yang sama. Bagi jemaah yang ingin menyelesaikan
haji lebih awal (Nafar Awal), tanggal 12 Dzulhijjah adalah hari terakhir mereka
melontar jumrah sebelum kembali ke Makkah. Namun, kami memilih untuk
melanjutkan hingga tanggal 13 Dzulhijjah, melakukan Nafar Tsani.
Pada saat nafar tsani, suasana jamarot lebih sepi sehingga kami dapat dengan
leluasa untuk melakukan lempar jumroh.
Pengalaman melempar jumroh pada tanggal 11 dan 12 Dzulhijah sangat ramai dan
padat oleh jamaah. Bahkan pada tanggal 11 Dzulhijah adalah puncak keramaian
lempar jumroh karena kami melaksanakannya setelah sholat ashar. Ada dua orang
dari rombongan kami terpisah yaitu mbu Hj. Sri dan Bu Hj. Dede. Kami sempat
panik, mencari mereka adalah hal yang sulit disela-sela jutaan jamaah. Kami
menghubungi mereka, nampaknya suara ponselnya nya tidak terdengar. Kemudian kami
memutuskan untuk tetap menunggu mereka samapai setelah maghrib. Lama tak kunjung
ada informasi dari mereka, tiba-tiba ponselku berbunyi. Mereka memberikan kabar
bahwa telah melakukan lempar jumroh bersama rombongan jamaah lain.
Alhamdulillah… lega rasanya. Ini memberikan pelajaran kepada kita semua, jangan
panik ketika menghadapi masalah. Ikuti alurnya saja. Ingatlah bahwa semua jamaah
juga ingin selamat. Jadi, kita saling menjaga dan bertoleransi untuk saling
melindungi dengan sesama jamaah.
Perjalanan bolak-balik dari tenda Mina ke Jamarat, sejauh 6 kilometer setiap
kali, adalah ujian fisik yang sesungguhnya. Panas terik matahari, keramaian,
dan kelelahan yang menumpuk tak jarang membuat semangat sedikit goyah. Namun,
setiap kali rasa lelah itu datang, aku kembali teringat akan Ibu Kolot.
Wajahnya yang penuh ketenangan dan langkahnya yang ringan selalu menjadi
pengingat bahwa usianya yang sudah 80 tahun lebih bukanlah penghalang untuk beribadah. Keyakinan akan
pertolongan Allah adalah satu-satunya bekal terpenting.
Setiap kali batu-batu kerikil itu meluncur dari
tanganku, mengenai tiang jumrah, ada perasaan puas dan pembersihan diri.
Rasanya seperti membuang semua beban, semua pikiran buruk, dan segala godaan
syaitan yang selama ini mengikat. Ritual ini bukan hanya tentang melempar batu,
tetapi tentang memperkuat niat untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih taat,
dan lebih dekat kepada Allah.
Alhamdulillah, pada tanggal 13 Dzulhijjah, setelah melontar ketiga jumrah untuk terakhir kalinya, hati ini dipenuhi haru dan bahagia. Kami telah menyelesaikan semua rangkaian Armuzna dengan lancar. Kelelahan yang menumpuk, kaki yang terasa sakit, dan semua tantangan yang kami hadapi, semuanya terasa sangat kecil dibandingkan dengan kebahagiaan dan ketenangan batin yang kami rasakan. Allahu Akbar! Kami telah menggapai puncak rindu ini. Terima kasih ya Allah… Terima kasih…
Selama mabit di Mina, ada hal yang tak akan kami lupakan yaitu kebaikan Pak
H. Ade dan istrinya, Bu Hj. Alis yang luar biasa baik sekali. Mereka adalah
adik dari Umi Hj. Entoh yang sudah lama tinggal di Makkah Setiap kali rombongan
jamaah KBIHU turus melaksanakan mabit di Mina, mereka selalu menjenguk kami
sambil membawa makanan seperti Albaik (chicken nugget khas Arab), roti, bakwan,
kopi, snack sampai minuman jahe. Minuman yang membawa kehangatan sehangat
suasana di tanah air. Terima kasih Pak haji Ade beserta istri. Semoga segala
kebaikan yang telah diberikan akan dibalas oleh Allah dengan pahala yang
berlipat ganda.
Ada lagi yang membuat kami selalu kangen suasana Mina yaitu teriakan para jamah haji yang berbahasa Arab. Ketika kami sedang berjalan, mereka sering mengatakan “Toriq! Toriq! Toriq!” yang artinya “ayo jalan! ayo jalan!” . Mungkin karena kami orang Asia jalannya tidak secepat jalan mereka, jadi ketika jalan mereka terhambat karena ada kami di depannya, maka kata itulah yang sering mereka lontarkan. MasyaAllah… Tabarokallah…
Demikianlah ceritaku selama berhaji
dalam melaksanakan proses Armuzna. Selanjutnya kami akan melaksanakan tawaf
ifadah, sa’i dan tahalul untuk meyempurnakan rukun haji.
* Tanazul
merupakan pemulangan jamaah haji
lebih awal ke hotel di Makkah setelah selesai lempar jumrah aqabah untuk
mengurangi kepadatan di Mina. Jamaah yang mengikuti program tanazul sedianya setelah
melempar jumrah pada 11, 12, dan 13 Dzulhijjah tidak kembali ke Mina, namun kembali ke hotel masing-masing.



Komentar
Posting Komentar