Cerpen: Rindu di Kamar Sebelah
Rindu di Kamar Sebelah
Oleh: Nimas
Hawa dingin malam merayap masuk lewat celah jendela, menembus tirai tipis yang bergoyang pelan. Nyimas menarik selimutnya sampai ke dagu, mencoba memerangkap kehangatan di dalam. Namun, kehangatan itu terasa hampa. Malam ini, kasur mereka yang biasa penuh tawa dan kehangatan, terasa begitu luas dan kosong. Di sisi tempat tidurnya, bantal Guntur, suaminya, tergeletak rapi, seolah menanti kepulangan pemiliknya.
Di kamar sebelah, samar-samar terdengar suara batuk. Suara itu, meski pelan, bagai pukulan di dada Nyimas. Guntur sedang sakit, dan demi cintanya yang besar, ia memilih memisahkan diri agar Nyimas dan si kecil tidak tertular. "Jangan dekat-dekat dulu ya, sayang. Nanti kamu ikut sakit," bisiknya sore tadi, dengan suara serak. Meskipun Nyimas bersikeras, "Aku tidak apa-apa, Bang. Aku mau merawat Abang," Guntur tetap teguh. Ia lebih memilih kesepiannya sendiri daripada melihat orang-orang yang dicintainya menderita.
Nyimas memejamkan mata, mencoba tidur. Namun, pikirannya melayang ke masa-masa lalu. Bagaimana Guntur selalu menyingkirkan rambutnya dari wajah, bagaimana ia memeluknya erat di malam yang dingin, dan bagaimana ia selalu tahu kapan Nyimas membutuhkan secangkir teh hangat. Semua kenangan itu datang, seolah menguji ketahanan hati Nyimas.
Tak tahan dengan kerinduan yang menggerogoti, Nyimas bangkit. Ia melangkah perlahan, melewati koridor yang gelap, dan berhenti di depan pintu kamar Guntur. Dilihatnya sang suami terbaring dengan selimut tebal, napasnya terdengar berat. Nyimas masuk, berlutut di samping tempat tidur. Ia meraba kening Guntur dengan lembut. Tidak terlalu panas. Rasa lega membanjiri hatinya.
Guntur terkejut, matanya mengerjap pelan. "Nyimas? Kenapa bangun?" suaranya masih serak.
"Aku cuma mau lihat Abang," bisik Nyimas, air mata mulai menggenang. "Aku merindukanmu."
Guntur tersenyum lemah, tangannya yang hangat meraih tangan Nyimas. "Aku juga, sayang. Cepat kembali ke kamar, ya. Kamu harus istirahat."
Nyimas menggeleng. Ia tidak ingin beranjak. Ia ingin tetap di sana, di samping suaminya. Mengusap lembut rambutnya, membisikkan kata-kata penyemangat. Dengan penuh kasih, Nyimas memegang kening Guntur, lalu mengecupnya lembut.
"Semoga kamu segera sembuh, sayang," bisiknya di antara isak tangis. "Aku selalu merindukanmu."
Guntur memejamkan mata, merasakan kehangatan dan cinta yang mengalir dari sentuhan Nyimas. Meskipun terpisah, cinta mereka tidak pernah putus. Malam itu, di dalam kesendirian masing-masing, keduanya merasakan kehangatan yang sama, hangatnya cinta dan kerinduan. Cinta yang tidak hanya diungkapkan melalui pelukan, tetapi juga pengorbanan dan kepedulian yang tulus.

Komentar
Posting Komentar