Tujuh Langkah Kecil Menuju Impian Besar

Tujuh Langkah Kecil Menuju Impian Besar

Mentari pagi belum sepenuhnya merebut kegelapan malam. Di luar sana terdengar suara kokok ayam sayup-sayup dari kejauhan. Kicau burung  bernyanyi merdu tampaknya tak ingin kalah.  Melodi alam yang setia menemani setiap pergantian hari. Ah, desaku memang selalu menawarkan kedamaian di setiap paginya.

Suara adzan di kejauhan  mulai terdengar syahdu memecah keheningan. Suara itu mengingatkanku akan kewajiban. Namun, hari ini terasa begitu menggoda untuk terus dinikmati dalam keadaan terlelap membuatku enggan menyambut fajar.

"Sudah pagi, Ra, ayo bangun!" suara mamah terdengar lembut dari balik pintu. Mataku masih terpejam rapat.

"Iya, Mah, sebentar lagi." jawabku dengan suara serak khas bangun tidur.

"Segera ambil air wudhu agar kantukmu hilang dan bergegaslah sholat Shubuh!" sambung mamah yang tak pernah bosan mengingatkanku.

"Jangan lupa bereskan tempat tidurmu ya, Ra," lanjut mamah sebelum langkah kakinya menjauh.

"Iya, Mah. Siap laksanakan," jawabku sambil mencoba membuka mata.

 Tapi, godaan kasur terasa jauh lebih kuat saat ini. Kupejamkan mata sekali lagi,  membalikkan badan, memunggungi jendela. Pikiran-pikiran tentang hari ini mulai bermunculan. Ada beberapa kegiatan yang harus diselesaikan,  berangkat ke sekolah dengan teman-teman, dan juga harus membantu mamah di warung. Semua itu terasa begitu jauh dan melelahkan hanya dengan membayangkannya.

"Ayolah, bangun!" bisikku pada diri sendiri, meskipun suaraku nyaris tak terdengar.

Dengan menghela napas panjang, akhirnya kuputuskan untuk menyerah pada kenyamanan ini. Perlahan, mataku kubuka. Silau cahaya pagi membuatku menyipitkan mata sejenak. Aku meraih tangan dan mencoba mendorong tubuhku untuk duduk.

"Nah, gitu dong." gumamku pelan, merasa sedikit bangga dengan diri sendiri.

Aku bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu kemudian shalat Shubuh dan membaca ayat suci Al-Qur’an. Tak lupa perintah mamah untuk membereskan tempat tidur. Setelah itu, aku langsung mandi dan berpakaian seragam sekolah.

Di dapur, tercium aroma masakan mamah yang lezat. Akupun segera menghampirinya. Ternyata mamah sedang membuat nasi goreng kesukaanku. Kubantu sebisanya. Mamah  menyuruhku membuat telur mata sapi dan menyiapkan segelas susu hangat kemudian menyimpannya di meja makan. Aku, ayah, dan mamah kemudian sarapan bersama. Kehangatan ini selalu kurasakan setiap pagi.

Di luar sudah datang tiga sahabat karibku. Aisyah dengan semangatnya, Ratu dengan keceriaannya, dan Hanum yang pendiam namun tetap setia. Mereka sudah menunggu di depan gerbang rumahku.

“Assalamu’alaikum….” Seru mereka kompak.

“Wa’alaikumsalam…” aku menjawab salam dari ruang makan dan segera ke luar menemui teman-teman.

“Sudah siap berangkat ke sekolah pagi ini?” timpal Ratu sambil melakukan sedikit peregangan di tempat.

“Siap, dong!” Jawabku.

“Sebentar yah, aku pamit ke ayah dan mamahku dulu,” Lanjutku sambil kembali ke ruang makan untuk bersalaman pada ayah dan mamah. Memohon doa restu mereka agar kegiatanku hari ini berjalan lancar dan senantisa dalam ridho Allah SWT.

“Assalamu’alaikum, ayah, mamah!” seruku sambil mencium tangan mereka.

“Wa’alaikumsalam, Ra. Hati-hati di jalan ya!” jawab ayah dan mamah dengan senyum hangat.

Perjalanan menuju sekolah memang tidak terlalu jauh. Sekitar satu kilometer. Kami lebih senang memilih berjalan kaki. Selain sehat, berjalan kaki juga memberikan petualangan  yang menarik. Kami pun selalu punya cara agar perjalanan ke sekolah selalu menyenangkan.

Hari ini, Aisyah mengusulkan untuk berjalan berbaris layaknya tentara. Sambil berhitung “Satu, dua! Satu, dua!” kami pun mengayunkan tangan penuh semangat. Diselingi lagu “Garuda Pancasila”  dan juga lagu “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” yang diajarkan kemarin oleh Bu Herni membuat suasana pagi yang tenang menjadi riang.

Ratu yang suka memperhatikan lingkungan sekitar, tiba-tiba menunjuk ke pohon rambutan yang sedang berbuah lebat di tepi jalan. “Lihat teman-teman! Rambutan itu sudah matang!”

Hanum si pendiam pun ikut berkomentar, “Wah, iya! Sebentar lagi pasti panen.”

Kami berhenti sejenak untuk mengagumi pohon rambutan itu, lalu melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian kami melewati kebun bunga milik Bu Tyas. Beliau seorang pencinta bunga. Di setiap sudut rumahnya banyak bunga bermekaran, berwarna-warni sangat indah menebarkan aroma harum yang menyegarkan.

“Indahnya bunga-bunga ini.” kataku sambil menghirup udara dalam-dalam.

“Iya, Ra. Bu Tyas pasti rajin sekali merawatnya,” sahut Ratu.

Kami kembali berjalan. Kali ini dengan langkah yang lebih santai sambil mengobrol tentang materi yang akan dipelajari hari ini. Aisyah bercerita tentang cita-citanya menjadi seorang dokter, sementara Ratu bercerita tentang buku baru yang sudah dibacanya.  Aku dan Hanum mendengarkan dengan antusias.

Aku teringat pesan Bu Herni bahwa kita harus semangat dalam belajar untuk mewujudkan cita-cita demi  masa depan lebih cemerlang. “Nah, sekaranglah saatnya kita mengejar cita-cita itu dengan belajar yang giat, setuju teman-teman?”

“Setuju!!!, jawab Aisyah, Ratu, dan Hanum serempak. 

Tak terasa, kami sudah hampir sampai di gerbang sekolah. Teman-teman yang lain juga baru berdatangan. Ada yang diantar ibunya, ada yang berjalan kaki dan ada juga yang bersepeda.

Kami masuk kelas dengan wajah yang ceria dan tubuh yang segar setelah berjalan kaki dan  berolahraga ringan bersama.

Setibanya di kelas 5, seperti biasa pembelajaran dibuka dengan membaca doa, melakukan pembiasaan, bersholawat, menyanyikan lagu Nasional, senam Anak Indonesia Hebat, perkalian, dan lain-lain. Suara celoteh riang setelah kegiatan pembiasaan pun bercampur suara gesekan kursi dan derit papan tulis berwarna putih menciptakan suasana yang selalu kurindukan. Bu Herni, guru kelas kami yang selalu sabar dan tersenyum berdiri di depan kelas dengan buku tebal di tangannya.

Hari ini, pelajaran matematika terasa seperti gunung tinggi yang curam. Materi tentang perkalian membuat kepalaku terasa pecah karena penuh dengan angka-angka yang berputar-putar. Aku memandangi buku tulisku dengan lesu. Angka-angka itu seolah siap bertarung dan aku pasti akan kalah lagi.

“Ayo, anak-anak!” suara lembut Bu Herni memecah keheningan. “ Siapa yang bisa menjawab soal nomor satu?”

Beberapa teman mengangkat tangan dengan antusias. Aku? Jangankan mengangkat tangan, melihat soalnya saja aku sudah ciut. Aku melirik Aisyah yang tampak sibuk membuat kotretan. Ia selalu terlihat mudah memahami matematika.

“Sulit sekali, Bu,” celetuk Ole dari belakang, mewakili perasaanku dan mungkin beberapa teman lainnya.

Bu Herni tersenyum maklum. “Memang terlihat rumit, namun bukan berarti tidak bisa dikerjakan. Ayo, semuanya pasti bisa! Coba kita bahas soal nomor satu bersama-sama.”

Bu Herni kemudian menjelaskan langkah demi langkah, memberikan  contoh sederhana dan sesekali menyelipkan cerita anak sampai tebak-tebakkan.

“Bayangkan saja jika kamu punya 4 kotak kue, dan setiap kotak berisi 10 kue. Berapa jumlah kue semuanya?” Bu Herni bertanya dengan mata berbinar.

Aku mulai membayangkan kotak kue itu. “Ah, kalau tentang kue aku jadi lebih semangat! Mamahku kan jualan kue”. Kocoba ikuti cara bu Herni. Dan akhirnya aku bisa. Ternyata soal perkalian itu tak seseram yang kubayangkan. Bersama Bu Herni,  setiap soal menjadi tantangan yang menarik untuk ditaklukkan. Terima kasih Bu Herni yang telah membuat matematika yang tadinya menakutkan menjadi menyenangkan.

Tak lama bel istirahat berbunyi. Kami berhamburan keluar kelas untuk jajan dan bermain. Anak laki-laki lebih senang bermain bola. Sementara anak perempuan lebih memilih bermain bola bekel.

Tak terasa suara bel masuk berbunyi. “Tet tet tet….” Semua siswa kembali ke kelas masing-masing untuk melanjutkan pembelajaran. Aku dan teman-teman di kelas 5 belajar lagi bersama Bu Herni dengan mata pelajaran yang berbeda yaitu Bahasa Indonesia dan IPAS. Senang sekali hari ini. Belajar terasa lebih asyik jika kita lakukan dengan hati riang.

 Tepat pukul 12.00 WIB waktunya kami pulang. Matahari terik menerpa kulitku ketika aku dan teman-teman keluar gerbang sekolah. Tas ranselku terasa berat, bukan hanya karena buku-buku pelajaran, tapi juga karena pelajaran matematika yang membuat otakku penuh  dijejali angka Ah, akhirnya bebas!

Aku, Aisyah, Ratu, dan Hanum kembali pulang bersama-sama dengan hati riang diselingi tawa ringan. Namun, ketika di tengah perjalanan,  kami melihat seorang nenek yang hendak menyebrang jalan. Beliau tampak kebingungan dan membutuhkan pertolongan. Jantungku berdebar. Ada suara kecil di dalam hatiku yang berbisik, “ coba deh, bantu nenek itu.” Aku menarik napas dalam-dalam. Dengan sedikit ragu, aku dan teman-teman mendekati nenek itu.  

“Assalamu’alaikum, Nek.” Sapaku pelan.

Nenek mendongak, senyumnya langsung merekah lebar. “Wa’alaikumsalam, Nak. Kalian baru pulang sekolah ya?”

Aku mengangguk. “Iya, Nek. Boleh kami bantu menyebrang, Nek?” ujarku sambil memegang tangannya yang keriput.

"Terima kasih banyak, Nak. kalian memang anak yang baik."

"Sama-sama, Nek" jawabku sambil tersenyum.

Ketika melanjutkan perjalanan pulang, kami mendengar suara adzan Dhuhur di Masjid Assalam. Kamipun mempercepat langkah kaki agar segera sampai ke rumah masing-masing.

Setibanya di rumah, mamah sudah menyambut dengan senyumnya yang ramah. “Kamu sudah pulang, Ra, istirahat sebentar dan langsung sholat Dhuhur, ya,” suara mamah dengan lembut.

Aku menghela napas pelan. Aku ingin berselancar dulu dengan  benda pipih yang akhir-akhir ini menjadi sahabat setia. Ya, ponselku. Kulihat notifikasi dari grup kelas, beberapa pesan WA, dan tentu saja linimasa media sosial yang tak pernah sepi. Layar ponsel ini terasa begitu sulit kulepaskan. Dengan sedikit menggerutu, aku meletakkan ponsel di meja, lalu bergegas berwudhu untuk shalat Dhuhur. Saat sholat, ketika sujud aku berjanji dalam hati untuk tidak melupakan kewajiban utama hanya karena keseruan di ponsel.

Selesai sholat, aroma masakan Ibu sudah menyeruak ke seluruh sudut rumahku. Perutku pun ikut berbunyi. Di meja makan, sudah tersaji nasi, ikan mas goreng, sayur sop, buah jeruk dan segelas susu. Ayah sudah menunggu dengan senyumnya. Makan bersama keluarga selalu terasa hangat dan menyenangkan. Cerita tentang kejadian di sekolah dan aktivitas ayah hari ini lebih menarik daripada notifikasi yang berkedip di layar ponsel.

Setelah makan, mamah mengingatkanku untuk segera pergi ke madrasah. "Ra, sebentar lagi berangkat ke madrasah, ya."

“Iya, Mah.” jawabku pelan.

Sekolah madrasah memang sudah menjadi rutinitas sejak kecil. Awalnya terasa membosankan, tapi lama kelamaan aku mulai menyukai cerita-cerita nabi dan pelajaran tentang akhlak. Bertemu teman-teman di madrasah juga selalu menyenangkan. Kami belajar dan tertawa bersama.

Pulang dari madrasah, teman-teman di sekitar rumah sudah berkumpul di lapangan. Mereka mengajakku bermain petak umpet. Awalnya aku ragu, ingin segera kembali ke dunia ponsel. Tapi melihat wajah-wajah ceria mereka, aku pun ikut bergabung, tertawa lepas bersama teman-teman, ternyata jauh lebih seru daripada menatap layar ponsel seorang diri.

Tak terasa kami bermain sampai menjelang waktu Maghrib. Mamah menyuruhku dan teman-teman untuk segera pulang, mandi dan bersiap untuk melaksanakan sholat Maghrib juga mengaji ke Pak Kyai.

Sepulang mengaji sekitar pukul 19.30 WIB, aku selalu terbiasa untuk belajar dan menyiapkan buku untuk pelajaran esok hari sampai pukul 20.30 WIB. Setelah lelah belajar, aku sempat meraih ponsel, tapi hanya sebentar sekedar melihat pesan WA atau mengecek notifikasi di medsos.  Akupun segera menyiapkan diri untuk tidur lebih awal.  Teringat pesan Bu Herni agar kita selalu membiasakan diri tidur lebih cepat agar bisa bangun pagi dalam keadaan yang lebih segar.

“Terima kasih Ya Allah, untuk hari yang indah ini," bisikku dalam hati. Mataku perlahan terpejam, membawa serta mimpi-mimpi indah tentang masa depan yang cerah. Aku tahu, dengan kebiasaan baikku hari ini dan hari seterusnya, aku pasti bisa menjadi anak yang sukses dan membanggakan kedua orang tua.

 Tujuh Kebiasaanku Menuju Sukses

Mentari pagi belum sepenuhnya merebut kegelapan malam. Di luar sana terdengar suara kokok ayam sayup-sayup dari kejauhan. Kicau burung  bernyanyi merdu tampaknya tak ingin kalah.  Melodi alam yang setia menemani setiap pergantian hari. Ah, desaku memang selalu menawarkan kedamaian di setiap paginya.

Suara adzan di kejauhan  mulai terdengar syahdu memecah keheningan. Suara itu mengingatkanku akan kewajiban. Namun, hari ini terasa begitu menggoda untuk terus dinikmati dalam keadaan terlelap membuatku enggan menyambut fajar.

"Sudah pagi, Ra, ayo bangun!" suara mamah terdengar lembut dari balik pintu. Mataku masih terpejam rapat.

"Iya, Mah, sebentar lagi." jawabku dengan suara serak khas bangun tidur.

"Segera ambil air wudhu agar kantukmu hilang dan bergegaslah sholat Shubuh!" sambung mamah yang tak pernah bosan mengingatkanku.

"Jangan lupa bereskan tempat tidurmu ya, Ra," lanjut mamah sebelum langkah kakinya menjauh.

"Iya, Mah. Siap laksanakan," jawabku sambil mencoba membuka mata.

 Tapi, godaan kasur terasa jauh lebih kuat saat ini. Kupejamkan mata sekali lagi,  membalikkan badan, memunggungi jendela. Pikiran-pikiran tentang hari ini mulai bermunculan. Ada beberapa kegiatan yang harus diselesaikan,  berangkat ke sekolah dengan teman-teman, dan juga harus membantu mamah di warung. Semua itu terasa begitu jauh dan melelahkan hanya dengan membayangkannya.

"Ayolah, bangun!" bisikku pada diri sendiri, meskipun suaraku nyaris tak terdengar.

Dengan menghela napas panjang, akhirnya kuputuskan untuk menyerah pada kenyamanan ini. Perlahan, mataku kubuka. Silau cahaya pagi membuatku menyipitkan mata sejenak. Aku meraih tangan dan mencoba mendorong tubuhku untuk duduk.

"Nah, gitu dong." gumamku pelan, merasa sedikit bangga dengan diri sendiri.

Aku bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu kemudian shalat Shubuh dan membaca ayat suci Al-Qur’an. Tak lupa perintah mamah untuk membereskan tempat tidur. Setelah itu, aku langsung mandi dan berpakaian seragam sekolah.

Di dapur, tercium aroma masakan mamah yang lezat. Akupun segera menghampirinya. Ternyata mamah sedang membuat nasi goreng kesukaanku. Kubantu sebisanya. Mamah  menyuruhku membuat telur mata sapi dan menyiapkan segelas susu hangat kemudian menyimpannya di meja makan. Aku, ayah, dan mamah kemudian sarapan bersama. Kehangatan ini selalu kurasakan setiap pagi.

Di luar sudah datang tiga sahabat karibku. Aisyah dengan semangatnya, Ratu dengan keceriaannya, dan Hanum yang pendiam namun tetap setia. Mereka sudah menunggu di depan gerbang rumahku.

“Assalamu’alaikum….” Seru mereka kompak.

“Wa’alaikumsalam…” aku menjawab salam dari ruang makan dan segera ke luar menemui teman-teman.

“Sudah siap berangkat ke sekolah pagi ini?” timpal Ratu sambil melakukan sedikit peregangan di tempat.

“Siap, dong!” Jawabku.

“Sebentar yah, aku pamit ke ayah dan mamahku dulu,” Lanjutku sambil kembali ke ruang makan untuk bersalaman pada ayah dan mamah. Memohon doa restu mereka agar kegiatanku hari ini berjalan lancar dan senantisa dalam ridho Allah SWT.

“Assalamu’alaikum, ayah, mamah!” seruku sambil mencium tangan mereka.

“Wa’alaikumsalam, Ra. Hati-hati di jalan ya!” jawab ayah dan mamah dengan senyum hangat.

Perjalanan menuju sekolah memang tidak terlalu jauh. Sekitar satu kilometer. Kami lebih senang memilih berjalan kaki. Selain sehat, berjalan kaki juga memberikan petualangan  yang menarik. Kami pun selalu punya cara agar perjalanan ke sekolah selalu menyenangkan.

Hari ini, Aisyah mengusulkan untuk berjalan berbaris layaknya tentara. Sambil berhitung “Satu, dua! Satu, dua!” kami pun mengayunkan tangan penuh semangat. Diselingi lagu “Garuda Pancasila”  dan juga lagu “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” yang diajarkan kemarin oleh Bu Herni membuat suasana pagi yang tenang menjadi riang.

Ratu yang suka memperhatikan lingkungan sekitar, tiba-tiba menunjuk ke pohon rambutan yang sedang berbuah lebat di tepi jalan. “Lihat teman-teman! Rambutan itu sudah matang!”

Hanum si pendiam pun ikut berkomentar, “Wah, iya! Sebentar lagi pasti panen.”

Kami berhenti sejenak untuk mengagumi pohon rambutan itu, lalu melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian kami melewati kebun bunga milik Bu Tyas. Beliau seorang pencinta bunga. Di setiap sudut rumahnya banyak bunga bermekaran, berwarna-warni sangat indah menebarkan aroma harum yang menyegarkan.

“Indahnya bunga-bunga ini.” kataku sambil menghirup udara dalam-dalam.

“Iya, Ra. Bu Tyas pasti rajin sekali merawatnya,” sahut Ratu.

Kami kembali berjalan. Kali ini dengan langkah yang lebih santai sambil mengobrol tentang materi yang akan dipelajari hari ini. Aisyah bercerita tentang cita-citanya menjadi seorang dokter, sementara Ratu bercerita tentang buku baru yang sudah dibacanya.  Aku dan Hanum mendengarkan dengan antusias.

Aku teringat pesan Bu Herni bahwa kita harus semangat dalam belajar untuk mewujudkan cita-cita demi  masa depan lebih cemerlang. “Nah, sekaranglah saatnya kita mengejar cita-cita itu dengan belajar yang giat, setuju teman-teman?”

“Setuju!!!, jawab Aisyah, Ratu, dan Hanum serempak. 

Tak terasa, kami sudah hampir sampai di gerbang sekolah. Teman-teman yang lain juga baru berdatangan. Ada yang diantar ibunya, ada yang berjalan kaki dan ada juga yang bersepeda.

Kami masuk kelas dengan wajah yang ceria dan tubuh yang segar setelah berjalan kaki dan  berolahraga ringan bersama.

Setibanya di kelas 5, seperti biasa pembelajaran dibuka dengan membaca doa, melakukan pembiasaan, bersholawat, menyanyikan lagu Nasional, senam Anak Indonesia Hebat, perkalian, dan lain-lain. Suara celoteh riang setelah kegiatan pembiasaan pun bercampur suara gesekan kursi dan derit papan tulis berwarna putih menciptakan suasana yang selalu kurindukan. Bu Herni, guru kelas kami yang selalu sabar dan tersenyum berdiri di depan kelas dengan buku tebal di tangannya.

Hari ini, pelajaran matematika terasa seperti gunung tinggi yang curam. Materi tentang perkalian membuat kepalaku terasa pecah karena penuh dengan angka-angka yang berputar-putar. Aku memandangi buku tulisku dengan lesu. Angka-angka itu seolah siap bertarung dan aku pasti akan kalah lagi.

“Ayo, anak-anak!” suara lembut Bu Herni memecah keheningan. “ Siapa yang bisa menjawab soal nomor satu?”

Beberapa teman mengangkat tangan dengan antusias. Aku? Jangankan mengangkat tangan, melihat soalnya saja aku sudah ciut. Aku melirik Aisyah yang tampak sibuk membuat kotretan. Ia selalu terlihat mudah memahami matematika.

“Sulit sekali, Bu,” celetuk Ole dari belakang, mewakili perasaanku dan mungkin beberapa teman lainnya.

Bu Herni tersenyum maklum. “Memang terlihat rumit, namun bukan berarti tidak bisa dikerjakan. Ayo, semuanya pasti bisa! Coba kita bahas soal nomor satu bersama-sama.”

Bu Herni kemudian menjelaskan langkah demi langkah, memberikan  contoh sederhana dan sesekali menyelipkan cerita anak sampai tebak-tebakkan.

“Bayangkan saja jika kamu punya 4 kotak kue, dan setiap kotak berisi 10 kue. Berapa jumlah kue semuanya?” Bu Herni bertanya dengan mata berbinar.

Aku mulai membayangkan kotak kue itu. “Ah, kalau tentang kue aku jadi lebih semangat! Mamahku kan jualan kue”. Kocoba ikuti cara bu Herni. Dan akhirnya aku bisa. Ternyata soal perkalian itu tak seseram yang kubayangkan. Bersama Bu Herni,  setiap soal menjadi tantangan yang menarik untuk ditaklukkan. Terima kasih Bu Herni yang telah membuat matematika yang tadinya menakutkan menjadi menyenangkan.

Tak lama bel istirahat berbunyi. Kami berhamburan keluar kelas untuk jajan dan bermain. Anak laki-laki lebih senang bermain bola. Sementara anak perempuan lebih memilih bermain bola bekel.

Tak terasa suara bel masuk berbunyi. “Tet tet tet….” Semua siswa kembali ke kelas masing-masing untuk melanjutkan pembelajaran. Aku dan teman-teman di kelas 5 belajar lagi bersama Bu Herni dengan mata pelajaran yang berbeda yaitu Bahasa Indonesia dan IPAS. Senang sekali hari ini. Belajar terasa lebih asyik jika kita lakukan dengan hati riang.

 Tepat pukul 12.00 WIB waktunya kami pulang. Matahari terik menerpa kulitku ketika aku dan teman-teman keluar gerbang sekolah. Tas ranselku terasa berat, bukan hanya karena buku-buku pelajaran, tapi juga karena pelajaran matematika yang membuat otakku penuh  dijejali angka Ah, akhirnya bebas!

Aku, Aisyah, Ratu, dan Hanum kembali pulang bersama-sama dengan hati riang diselingi tawa ringan. Namun, ketika di tengah perjalanan,  kami melihat seorang nenek yang hendak menyebrang jalan. Beliau tampak kebingungan dan membutuhkan pertolongan. Jantungku berdebar. Ada suara kecil di dalam hatiku yang berbisik, “ coba deh, bantu nenek itu.” Aku menarik napas dalam-dalam. Dengan sedikit ragu, aku dan teman-teman mendekati nenek itu.  

“Assalamu’alaikum, Nek.” Sapaku pelan.

Nenek mendongak, senyumnya langsung merekah lebar. “Wa’alaikumsalam, Nak. Kalian baru pulang sekolah ya?”

Aku mengangguk. “Iya, Nek. Boleh kami bantu menyebrang, Nek?” ujarku sambil memegang tangannya yang keriput.

"Terima kasih banyak, Nak. kalian memang anak yang baik."

"Sama-sama, Nek" jawabku sambil tersenyum.

Ketika melanjutkan perjalanan pulang, kami mendengar suara adzan Dhuhur di Masjid Assalam. Kamipun mempercepat langkah kaki agar segera sampai ke rumah masing-masing.

Setibanya di rumah, mamah sudah menyambut dengan senyumnya yang ramah. “Kamu sudah pulang, Ra, istirahat sebentar dan langsung sholat Dhuhur, ya,” suara mamah dengan lembut.

Aku menghela napas pelan. Aku ingin berselancar dulu dengan  benda pipih yang akhir-akhir ini menjadi sahabat setia. Ya, ponselku. Kulihat notifikasi dari grup kelas, beberapa pesan WA, dan tentu saja linimasa media sosial yang tak pernah sepi. Layar ponsel ini terasa begitu sulit kulepaskan. Dengan sedikit menggerutu, aku meletakkan ponsel di meja, lalu bergegas berwudhu untuk shalat Dhuhur. Saat sholat, ketika sujud aku berjanji dalam hati untuk tidak melupakan kewajiban utama hanya karena keseruan di ponsel.

Selesai sholat, aroma masakan Ibu sudah menyeruak ke seluruh sudut rumahku. Perutku pun ikut berbunyi. Di meja makan, sudah tersaji nasi, ikan mas goreng, sayur sop, buah jeruk dan segelas susu. Ayah sudah menunggu dengan senyumnya. Makan bersama keluarga selalu terasa hangat dan menyenangkan. Cerita tentang kejadian di sekolah dan aktivitas ayah hari ini lebih menarik daripada notifikasi yang berkedip di layar ponsel.

Setelah makan, mamah mengingatkanku untuk segera pergi ke madrasah. "Ra, sebentar lagi berangkat ke madrasah, ya."

“Iya, Mah.” jawabku pelan.

Sekolah madrasah memang sudah menjadi rutinitas sejak kecil. Awalnya terasa membosankan, tapi lama kelamaan aku mulai menyukai cerita-cerita nabi dan pelajaran tentang akhlak. Bertemu teman-teman di madrasah juga selalu menyenangkan. Kami belajar dan tertawa bersama.

Pulang dari madrasah, teman-teman di sekitar rumah sudah berkumpul di lapangan. Mereka mengajakku bermain petak umpet. Awalnya aku ragu, ingin segera kembali ke dunia ponsel. Tapi melihat wajah-wajah ceria mereka, aku pun ikut bergabung, tertawa lepas bersama teman-teman, ternyata jauh lebih seru daripada menatap layar ponsel seorang diri.

Tak terasa kami bermain sampai menjelang waktu Maghrib. Mamah menyuruhku dan teman-teman untuk segera pulang, mandi dan bersiap untuk melaksanakan sholat Maghrib juga mengaji ke Pak Kyai.

Sepulang mengaji sekitar pukul 19.30 WIB, aku selalu terbiasa untuk belajar dan menyiapkan buku untuk pelajaran esok hari sampai pukul 20.30 WIB. Setelah lelah belajar, aku sempat meraih ponsel, tapi hanya sebentar sekedar melihat pesan WA atau mengecek notifikasi di medsos.  Akupun segera menyiapkan diri untuk tidur lebih awal.  Teringat pesan Bu Herni agar kita selalu membiasakan diri tidur lebih cepat agar bisa bangun pagi dalam keadaan yang lebih segar.

“Terima kasih Ya Allah, untuk hari yang indah ini," bisikku dalam hati. Mataku perlahan terpejam, membawa serta mimpi-mimpi indah tentang masa depan yang cerah. Aku tahu, dengan kebiasaan baikku hari ini dan hari seterusnya, aku pasti bisa menjadi anak yang sukses dan membanggakan kedua orang tua.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jambore GTK Hebat 2025: Mendorong Transformasi Pendidikan di Pandeglang

Cerita Nimas dalam Jambore GTK Hebat 2025 Tingkat Kabupaten Pandeglang

"Road to Jombang: Demi Wisuda Anak, Eh Malah Ketemu "Jodoh" Obrolan di Pojok Baca!