Perjalanan Paling Indah di 2024, bagian 1

 Pandeglang, 3 Juni 2024

Hari Senin 3 Juni 2024 adalah hari paling bersejarah bagiku dan suami. Alhamdulillah Allah takdirkan kami untuk berangkat ke tanah suci. Air mata tak henti mengalir membasahi hati dan pipiku. Jutaan syukur kami panjatkan atas nikmat yang sangat luar biasa ini. Setelah penantian panjang selama 11 tahun, akhirnya kami berangkat tahun 2024 di bulan Juni.  Kami mendaftar haji pada tahun 2013 di bulan Januari. 

Tepat pukul 03.00 WIB dini hari kami berangkat dari rumah. Lantunan doa dari ibunda, anak-anak, kakak, saudara, juga semua warga kampung mengiringi kepergian kami. Dipimpin oleh KH. Tibrizi doa menjadi semakin mangharukan. Kumandang adzan dan telekin menambah kesedihan. Kami akan berpisah selama 40 hari dalam rangka menjalankan ibadah haji. Masya Allah, tak henti hati ini bersyukur. 

Pukul 03.30 kami tiba di Pendopo Kabupaten Pandeglang. Disambut oleh Ibu Bupati Hj. Irna Narulita beserta jajarannya. Dari sini saya benar-benar merasakan bahwa menjadi tamu Allah adalah nikmat yang sangat luar biasa. Sejak awal kedatangan sampai tiba lagi ke tanah air, pelayanan terbaik selalu diberikan. Alhamdulillah.

Di Pendopo, berbagai sambutan disampaikan oleh Ibu Bupati, Kepala Departemen Agama, Ketua MUI dan lain-lain sambil menunggu waktu subuh tiba. Riuh riang para jamaah seolah tak ingin sabar untuk segera berangkat menuju tanah suci.


Sesuai estimasi kami berangkat dari pendopo pukul 07.00 WIB pagi. Naik bis Pemda sebanyak 7 bis diantar langsung oleh Ibu Bupati sampai ke Pendopo. Lambaian tangan keluarga, sahabat dan seluruh masyarakat Pandeglang mengiringi kami di sepanjang jalan. 

Aku yakin rencana Allah selalu indah, Ketika diantar ke Pondok Gede, aku bertemu seorang petugas cantik. Ternyata ia sahabat karibku. Dian namanya. Dengan setia Dian menemaniku. Sepanjang perjalanan tak henti para Jamaah mengucapkan dzikir, talbiyah. Di sepanjang jalan itu pula aku membaca talbiyah sambil tak henti air mata bercucuran. "Terima kasih Ya Allah atas nikmat ini. Lindungi selalu hamba dan suami sampai pulang kembali ke tanah air, mudahkann segala proses ibadah haji kami." lirihku dalam hati. 

Tak terasa kami pun tiba di Pondok Gede. Di sana kami tidak langsung istirahat, tetapi harus melewati beberapa tahapan pemeriksaan. Waktu itu, jamaah yang memakai gelang berwarna merah dan hijau dipisahkan. Suamiku memakai gelang berwarna hijau. Sementara aku memakai gelang berwarna merah. Betapa dag dig dug nya hatiku. "Mudahkan hamba Ya Allah.." doaku tak henti dalam hati. 

Pemeriksaan bagi wanita pun ada lagi yaitu tes kehamilan. Aku khawatir menungu hasilnya. Namun, kekhawatiranku Alhamdulillah berujung bahagia. Aku lolos dan artinya bisa melanjutkan ke tahap berikutnya. 

Antri bersama para jamaah lainnya untuk mendapatkan living cost, gelang dan beberapa alat kesehatan mulai dari masker, hand sanitizer, seprei, oralit, dan lain-lain. Living cost kala itu sebesar 1.200 real atau senilai Rp 6.000.000. 

Setelah selesai, kami pun langsung diantarkan oleh mobil di Pondok Gede menuju ke tempat istirahat di asrama. Aku di asrama J lantai 3 no 9 bersama Mami Hj. Eha dan kedua putrinya, Neng Hj. Ria dan Neng Hj. Atu. Mereka berasal dari labuan. 

Ketika beristirahat, ternyata pemeriksaan belum berhenti. Koper kami yang ditunda di ruang pemeriksaan belum selesai diperiksa. Koper Neng Hj. Atu terdeteksi membawa benda berbahan logam yaitu magic com kecil. Ini memberikan pelajaran  bagi yang belum beragkat haji bahwa tidak boleh membawa barang-barang yang berlebihan karena para jamaah haji benar-benar diistimewakan. Makan selalu tersedia tepat waktu. Jadi tidak perlu repot membawa perabotan masak. Kita harus fokus mengerjalan ibadah saja. 

Satu malam kami menginap di Pondok Gede. Pelayanan terbaik selalu diberikan. Kamar yang nyaman, toilet  yang bersih, makanan yang tersaji dengan baik kami dapatkan. 

Juni tanggal 4, Pukul 04.00 WIB kami pun bersiap-siap menuju Bandara Soekarno Hatta. Kami pun, para jamaah diperiksa lagi secara detail. Tidak boleh membawa peralatan logam karena akan terdeteksi x ray. 

Selasa, 5 Juni 2024 pagi tiba di Bandara Soekarno Hatta. Melihat capung raksasa yang akan membawa kami menuju tanah suci. Pesawat yang membawa rombongan kami yaitu pesawat saudi. Estimasi berangkat pukul 08.00 WIB, kami berangkat pukul 10.00 WIB. 


Naik pesawat adalah pengalaman pertamaku. Jadi wajarlah jika hatiku berdebar kencang. Hatiku penuh keyakinan Allah akan menguatkan hatiku, menyehatkan badanku dan selalu memberi perlindungan serta kemudahan dalam stiap proses ibadah haji ini. 

Selama kurang lebih 8 jam berda di pesawat, akhirnya kami tiba di Bandara King Abdul Ajiz pukul 16.00 waktu saudi arabia. Disambut oleh bis khas Saudi Arabia menuju Makkah Al Mukarrromah. Masya Allah... Tabarokallah sepanjang perjalanan senantiasa bertalbiyah sambil menikmati pemandangan asing yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ya, Gunung bebatuan curam menemani perjalanan kami menuju Makkah Al Mukarromah. 

  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jambore GTK Hebat 2025: Mendorong Transformasi Pendidikan di Pandeglang

Cerita Nimas dalam Jambore GTK Hebat 2025 Tingkat Kabupaten Pandeglang

"Road to Jombang: Demi Wisuda Anak, Eh Malah Ketemu "Jodoh" Obrolan di Pojok Baca!