Belajar tentang Usaha Penerbitan Buku Bersama Cak Inin di KBMN 32
"Orang boleh pandai setinggi langit tetapi selama
tidak menulis akan hilang dari masyarakat dan sejarah" ( Pramoedya Ananta
Toer)
"Ikatlah ilmu.dengan tulisan" (
Ali bin Abi Tholib)
Senin, 24 Februari 2025 adalah pertemuan ke-15 Kelompok
Belajar Menulis (KBMN) gelombang 32. Kami para peserta KBMN mendapat ilmu yang
luar biasa tentang usaha penerbitan buku. Wah… Bagi saya untuk menerbitkan buku
solo adalah harapan yang sangat diimpikan. Setelah sebelumnya baru bisa membuat
5 buku antologi bersama para penulis hebat, saya sangat memimpikan kelak
tulisan sederhana saya bisa dibukukan. Apalagi kalau sampai laris manis deh..
ehmmm, senang rasanya.
Narasumber pada pertemuan ini adalah orang hebat yang
bergerak di bidang usaha penerbitan buku. Beliau sering disapa Cak Inin. Nama
lengkap beliau adalah Mukminin, M.Pd. Karyanya yang segudang menunjukkan
keprofesinalannya dalam membuat buku. Beliau telah menghasilkan 58 buku (10
buku solo dan 48 buku antologi). Narasumber hebat ini juga adalah
owner usaha penerbitan buku dengan nama
Kamila Press. Sungguh luar biasa. Di KBMN ini, kami selalu belajar bersama pakarnya yang hebat dan
professional. Berikut CV Cak Inin: https://cakinin.blogspot.com/2020/10/curiculum-vitae.html
Moderator yang mendampingi pertemuan ini adalah Bapak
Sigit PN, SH. Beliau adalah alumni KBMN PGRI Gelombang 23 dan Tim Solid Om Jay
yang sudah sukses.
Pada awal pembelajaran, Cak Inin mengingatkan peserta
bahwa menulis adalah salah satu ibadah untuk mengajar, mengajak, memotivasi
pembaca untuk berbagi, berbuat kebaikan kepada sesama lewat karya baik buku
ilmu pengetahuan dan karya sastra ( puisi, prosa), Quote, dll. ).
Agar tulisan yang sudah kita rangkai dari huruf menjadi bait dan kata sehingga
menjadi mahakarya yang sampai kepada pembaca, maka kita butuh usaha penerbitan
buku agar karya kita bisa tergenggam erat.
Mengenal Penerbit Buku.
Ada dua jenis penerbit buku yaitu penerbit mayor dan penerbit indhie.
Keduanya memiliki karakteristik masing-masing. Berikut penjabarannya:
1. Jumlah cetakan di Penerbit Mayor
Penerbit mayor:
mencetak bukunya secara masal. Biasanya cetakan pertama sekitar 3000 eksemplar
atau minimal 1000 eksemplar untuk dijual di toko-toko buku.
Penerbit indie
: hanya mencetak buku apabila ada yang memesan atau cetak berkala yang dikenal
dengan POD ( Print on Demand) yang umumnya didistribusikan melalui media online
Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, WA grup dll.
2.
Pemilihan Naskah yang Diterbitkan
Penerbit mayor
: Naskah harus melewati beberapa tahap prosedur sebelum menerbitkan sebuah
naskah. Tentu saja, menyambung dari poin yang pertama, penerbit mayor mencetak
bukunya secara masal 1000 - 3000 eksemplar. Mereka ekstra hati-hati dalam
memilih naskah yang akan mereka terbitkan dan tidak akan berani mengambil
resiko untuk menerbitkan setiap naskah yang mereka terima. Penerbit mayor
memiliki syarat yang semakin ketat, harus mengikuti selera pasar, dan tingginya
tingkat penolakan.
Penerbit indie
: Tidak menolak naskah. Selama naskah tersebut sebuah karya yang layak
diterbitkan; tidak melanggar undang-undang hak cipta karya sendiri, tidak
plagiat, serta tidak menyinggung unsur SARA dan pornografi, naskah tersebut
pasti diterbitkan. Penerbit indhie adalah alternatif baru bagi para penulis
untuk membukukan tulisannya.
3.
Profesionalitas
Penerbit
mayor : Penerbit mayor tentu saja profesional dengan banyaknya dukungan SDM
di perusahaan besar mereka.
Penerbit indie
: sama-sama profesional, tapi sering disalah artikan. Banyak sekali anggapan
menerbitkan buku di penerbit indie asal-asalan, asal cetak-jadi-jual. Sebagai
penulis, harus jeli memilih siapa yang akan jadi penerbit tulisan kita. Jangan
tergoda dengan paket penerbitan murah, tapi kualitas masih belum jelas. Mutu
dan manajemen pemasaran buku bisa menjadi ukuran penilaian awal sebuah
penerbitan. Kadang murah Cover kurang bagus, kertas dalam coklat kasar bukan
bookpaper ( kertas coklat halus). Kami jaga mutu Cover bagus cerah mengkilat
isi buku kertas cokal halus awet ( bookpapar).
4.
Waktu Penerbitan
Penerbit
mayor : Pada umumnya sebuah naskah diterima atau tidaknya akan dikonfirmasi
dalam tempo 1-3 bulan. Jika naskah diterima, ada giliran atau waktu terbit yang
bisa cepat, tapi ada juga yang sampai bertahun-tahun. Karena penerbit mayor
adalah sebuah penerbit besar, banyak sekali alur kerja yang harus mereka lalui.
Bersyukur kalau buku bisa cepat didistribusikan di semua toko buku. Namun, jika
dalam waktu yang ditentukan penjualan buku tidak sesuai target, maka buku akan
dilepas oleh distributor dan ditarik kembali oleh penerbit.
Penerbit indie
: Tentu berbeda. Setelah menerima naskah, penerbit indhie akan segera memproses
naskah yang diterima dengan cepat. Dalam hitungan minggu buku sudah bisa
terbit. Karena memang, tidak fokus pada selera pasar yang banyak menuntut ini
dan itu. Penerbit indhie menerbitkan karya yang penulisnya yakin karya tersebut
adalah karya terbaiknya dan layak diterbitkan sehingga kami tidak memiliki
pertimbangan rumit dalam menerbitkan buku.
5.
Royalti
Penerbit mayor
: kebanyakan penerbit mayor mematok royalti penulis maksimal 10% dari total
penjualan. Biasanya dikirim kepada penulis setelah mencapai angka tertentu atau
setelah 3-6 bulan penjualan buku.
Penerbit indie
: umumnya 15-20% dari harga buku.
Dipasarkan dan dijual penulis lewat fb, Instagram, wa grup, Twitter, status,
dll
6. Biaya penerbitan
Penerbit
mayor : Biaya penerbitan gratis. Itulah sebabnya mereka tidak bisa langsung
menerbitkan buku begitu saja sekalipun buku tersebut dinilai bagus oleh mereka.
Seperti yang sudah disebut di atas, penerbit mayor memiliki pertimbangan dan
tuntutan yang banyak untuk menerbitkan sebuah buku karena jika buku tersebut
tidak laku terjual, kerugian hanya ada di pihak penerbit.
Penerbit indie
: Berbayar sesuai dengg aturan masing-masing penerbit. Antara penerbit satu
dengan yang lain berbeda. Karena
pelayanan dan mutu buku yg diterbitkan tidak sama.
Contoh penerbit Mayor: Balai Pustaka, Penerbit
Gramedia, Penerbit Andi, Penerbit Yudhistira, Grafindo Media Pratama, Peberbit Mizan, dll
Penerbit Indie Contohnya Kamila Press Lamongan, Lensa
Publising, TanKali, Pagan
Press, Oase, dll
Selanjutnya, Cak Inin, memberikan 5 tips menulis
dan menerbitkan buku yang tepat. Yuk Cekidot:
1. Tahap
Prawriting: Tahap
awal penulis mencari ide dengan peka terhadap sekitar (Pay attention). Penulis
harus kreatif menangkap fenomena yang terjadi di sekitar untuk menjadi tulisan.
Penulis juga harus banyak membaca buku untuk menambah wawasan dan referensi
tulisan.
2. Tahap
drafting: Penulis
mulai membuat draf (outline buku/ daftar isi buku) sesuai dengan apa yang
disukai (pasion). Bisa berupa artikel, cerpen, puisi, novel dll.
3. Tahap
Revisi: Setelah
naskah selesai, kita lakukan revisi naskah (tulisan mana yang baik dicantumkan,
naskah mana yang perlu dibuang, naskah
mana yg perlu ditambahkan).
4. Tahap editing (swasunting): Penulis melakukan pengeditan. Hanya memperbaiki
berbagai kesalahan tanda baca, kesalahan pada kalimat sebelum masuk penerbit (PUEBBI).
5. Tahap
publikasi: Jika
tulisan Anda yang berupa naskah buku sudah yakin maka kita memasuki tahap
Publikasi atau penerbitan buku.
Pada kesempatan yang sama, Cak Inin menanyakan kepada
peserta apakah peserta sudah mempunyai pandangan untuk menerbitkan buku untuk mengabadikan
tulisannya? Beliau merekomendasikan untuk menerbitkan buku di penerbit Indhie
sebagai penerbit independent yang banyak disukai. CV Kamila Press Lamongan
adalah salah satu solusinya karena penerbitan KAMILA PRESS
LAMONGAN melayani cetak buku, dengan jasa ISBN,
editing, Lay out, dan design cover buku dengan harga terjangkau.
Jika ada peserta yang berminat, beliau memberikan persyaratan
sebagai berikut:
1. Kirimkan naskah
lengkap
§ mulai judul,
§ kata pengantar,
§ daftar isi, naskah,
§ daftar isi,
§ daftar pustaka,
§ biodata penulis dengan fotonya, dan synopsis.
2. Ketik A5 ukurannya 14,8 x 21 cm, spasi 1,15 ukuran
fon 11 dan margin kanan 2 cm, kiri 2 cm, atas 2 cm dan bawah 2 cm. Gunakan
huruf Arial, calibri atau Cambria dan
masukkan dalam 1 file kirim ke WA sy atau email gusmukminin@gmail.com
Lalu, bagaimana jika kita ingin mempunyai usaha penerbitan
buku? Cak Inin pun berbagi dengan senang hati. Beliau memaparkan cara untuk
mempunayai usaha penerbitan buku, diantaranya:
1. Harus memiliki kantor (ruangan khusus di rumah)
atau bisa toko terpisah dari rumah.
2. Memiliki tenaga ahli / karyawan minimal 2 orang sebagi Layouter (tukang
layout buku) dan bisa desain buku (Cover buku) dan harus paham tata bahasa
Indonesia ( EYD/PUEBBI) sebagai editor.
3. Mempunyai langganan Percetakan (sebagai Member
Percetakan) atau bergabung dengan percetakan besar, jika belum punya mesin percetakan sendiri.
4. Modal secukupnya atau sedang untuk biaya
operasional.
5. Harus punya izin resmi CV. Mengajukan ke dinas
perizinan usaha di kabupaten.
6. Harus punya website berbayar
7. Harus ulet dan tahan banting dengan melayani
pelanggan dengan sepenuh hati. Pelanggan sebagai raja.
8. Selalu berinovasi mengikuti perkembangan.
9. Yakin usaha kita lancar dan sukses dengan ihtiyar,
kerja keras dan selalu berdoa kepada Allah SWT. Ingat DUIT (Doa, Usaha,
Ihtiyar, Tawakkal).
Demikianlah pemaparan materi dari Cak Inin yang sangat
luar biasa dan sangat mengisnpirasi. Semoga suatu saat saya bisa menerbitkan buku
solo di Kamila Press. Mohon doanya ya!

Komentar
Posting Komentar