Mendidik dan
Melatih Kecerdasan Budi Pekerti Murid
Sumber:google
Sahabat Kompasiana, kali ini saya
belajar di PMM membahas tentang bagaimana mendidik dan melatih kecerdasan budi
pekerti murid berdasarkan pemikiran Ki Hajar Dewantara agar kita dapat memahami
tujuan pendidikan nasional untuk melatih dan mendidik kecerdasan budi pekerti
murid.
Sebagai pendidik kita tidak cukup
mengajarkan kepada murid dari segi kognitif saja, bukan? Afektif dan psikomorik
juga merupakan hal yang sangat penting
untuk diajarkan kepada murid.
Murid membutuhkan tuntunan yang
dapat menumbuhkan budi pekerti dalam kehidupannya. Budi pekerti atau watak
merupakan hasil dari bersatunya gerak, pikiran, perasaan, dan kehendak atau
kemauan. Budi pekerti dapat dimaknai sebagai perpaduan antara cipta (kognitif)
dan rasa (efektif) sehingga menghasilkan karsa (psikomotorik).
Menurut Ki Hajar Dewantara, budi
pekerti adalah kemampuan kodrat manusia atau individu yang berkaitan dengan
bagian biologis dan berperan menentukan karakter seseorang. Bagian biologis
adalah bagian yang berhubungan dengan rasa misalnya takut, cemas, gelisah,
putus asa, tidak percaya diri, senang, bahagia, kecewa, sedih dan sebagainya. Di
samping itu terdapat juga bagian inteligible yaitu bagian yang berhubungan
dengan kemampuan kognitif atau berpikir menyerap pengetahuan.
Bagaimana budi pekerti atau watak
terbentuk?
Budi pekerti dibentuk oleh
lingkungan. Bermula dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat yang
semuanya dapat membentuk pola pikir, sikap, tindakan atau perilaku seseorang.
Budi pekerti dibentuk dari keluarga sebagai tempat pendidkan utama bagi anak.
Mereka dapat meniru perilaku baik dari orang tuanya. Orang tua hendaklah
menuntun, memberikan teladan dan contoh ynag baik. Di sekolah, kepala sekolah,
guru, tenaga kependidikan atau warga sekolah lainnya memberikan pengaruh
terhadap perilaku anak. Begitupun dengan
lingkungan masyarakat akan membentuk budi pekerti atau watak anak.
Ki Hajar Dewantara juga
menjelaskan bahwa keluarga merupakan tempat utama dan yang paling baik dalam
melatih karakter anak atau murid. Keluarga adalah tempat untuk anak atau murid
dalam proses untuk menjadi sempurna. Keluarga adalah laboratorium awal dan
utama untuk melatih dan menuntun anak agar siap menjalani hidup dalam
masyarakat.
Sebagai pendidik tentu kita
menemukan berbagai macam watak murid setiap harinya di kelas menemani proses
belajarnya, mendampingi tumbuhnya kecerdasan pikirnya dan membantu murid
menemukan budi pekerti atau watak baiknya serta membantu murid mengendalikan
dan memperbaiki watak atau budi pekerti yang kurang baik. Guru sebagai pendidik
di sekolah ikut turut serta berperan dalam menumbuhkan kecerdasan budi pekerti
dengan memberikan tuntunan dan teladan yang sesuai dengan kebutuhan murid. Seseorang yang mempunyai kecerdasan budi
pekerti akan memikirkan, merasakan, mempertimbangkan segala tingkah lakunya
agar tidak merugikan orang lain.
Oleh karena itu, sebagai pendidik
Kita harus dapat membantu murid untuk menumbuhkan kecerdasan
emosinya dengan cara sebagai berikut:
1)
Melatih keberanian berpendapat (akal)
2)
Mengasah perasaan dan perilaku (rasa)
3)
Memunculkan kehendak (karsa)
Dengan melakukan hal tersebut di atas
diharapkan mereka mampu untuk merefleksikan
dirinya dan mendapatkan pemahaman yang bermakna untuk mengenal dirinya sendiri sehingga
murid dapat menjadi manusia atau individu yang merdeka dan berbudi pekerti.
Semoga kita dapat menjadi guru
yang mampu melatih kecerdasan murid. Tidak hanya pada aspek kognitif saja tetapi
juga mampu melatih dan menuntun murid menjadi manusia yang memiliki budi
pekerti yang mulia sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila.
Salam Literasi
Salam Persahabatan
Komentar
Posting Komentar