Tanah Rantau Tak Mungkin Kulupa
Setelah lulus SMA, saya melanjutkan pendidikan ke D2 PGSD di UPI kampus serang. Di sini saya mendapatkan pendidikan keguruan. Dididik oleh dosen-dosen profesional yang benar-benar sangat berkesan. Memberikan ilmu kependidikan, menjadikan saya berlatih untuk menjadi guru yang bisa mengajar dan mendidik murid-murid saya kelak.
Berada di tanah rantau memberikan kesan yang sangat mendalam. Terlebih bagi saya yang jarang bahkan tidak pernah melakukan perjalanan kemana-mana kecuali hanya dengan orang tua.
Kali ini saya saya berada di tanah rantau ketika PPL dulu yaitu semasa saya kuliah di D2 PGSD yaitu di Karangantu, Serang Banten. Sungguh pengalaman yang luar biasa kami sekelompok PPL yang berjumlah 10 orang. 8 orang perempuan dan 2 orang laki-laki.
Pada saat PPL saya ditugaskan menjadi ketua kelompok. Sebagai ketua kelompok dalam kegiatan PPL ini tugas yang saya kerjakan tidak terlalu berat. Sekedar mengkoordinir teman-teman, memberikan arahan untuk kebersamaan juga untuk melakukan konfirmasi kepada dosen atas setiap kegiatan yang kami lakukan.
Di SDN Padek 2 kami melakukan tugas PPL. Sungguh sangat berkesan.... sangat luar biasa. Bagaimana tidak? karena lingkungan di sana sangat berbeda dengan lingkungan kami. Kala itu, kami semua anggota PPL sebagian besar berasal dari wilayah pedesaan yang sebagian besar wilayahnya adalah pesawahan. Sementara di tempat PPL ini kami tinggal di wilayah pantai. Terlebih saya, merasa sangat asing dengan kehidupan pantai, nelayan dan juga siswa-siswa nya yang dengan latar belakang nelayan membuat suasana terasa sangat berbeda.
Untuk kenyamanan tempat tinggal, kami ngekost di sebuah rumah yang dekat dengan sekolah. Rumah Bu Hj. Masitoh. Semoga beliau dan keluarga senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan dan panjang umur. Beliau dan keluarga nya ternyata bukan asli orang Banten, tapi berasal dari Sulawesi yaitu Suku Bugis. Melihat suasana seperti ini, kami mengamati bahwa di daerah ini memang sangat sedikit orang asli. Sebagian besar mereka adalah orang rantau. Ada yang dari Madura, Bugis, Serang, Sunda dan lain-lain. Pemandangan yang aneh bagiku. Mereka masing-masing memiliki ciri khas dan tetap melakukan ciri khas nya itu di sini. Misalnya saja sekalipun mereka sudah menetap di Karangantu, bahasa asli mereka masing-masing yang dipakai terkecuali jika berbicara dengan suku lain, maka bahasa Indonesia lah yang dipakai sebagai bahasa persatuan. Di sini saya benar-benar merasakan nikmatnya kebersamaan dalam keberagaman.
Setiap pagi setelah sholat shubuh kami melakukan marathon samapai ke pantai di laut Karangantu. Di tempat ini, kami sering melihat nelayan berlalu lalang. Ada yang baru pulang melaut kemudian menjajakan ikannya ke tetangga dan ada juga yang langsung dijual ke pelelangan.
Sepulangnya marathon, di sepanjang jalan nampak pemandangan ikan-ikan yang sedang dijemur. Aroma harum ikan laut yang sedang dijemur itu menusuk hidungku yang merasa aneh dengan aroma ini. Apalagi pada hari pertama aku hampir saja muntah mencium aroma ini. Tapi lama kelamaan aku bisa beradaptasi dengan aroma ini. Justru sekarang, aroma ini sangat kurindukan membuatku semakin teringat akan suasana PPL yang penuh suka dan duka.
Lanjut ke cerita PPL, pada hari pertama kami diantar oleh dosen pembimbing untuk berkenalan dengan kepala sekolah dan guru-guru. Mereka sangat baik. Guru-guru di sini pun ternyata banyak dari luar wilayah Serang. Ada yang dari Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Mereka sangat membantu kami.
Setiap hari sebelum melakukan mengajar kami berkonsultasi dulu dengan masing-masing guru pamong tentang bagaimana metode yang cocok, apa saja alat peraga yang cocok untuk pembelajaran yang akan disampaikan esok harinya. Semua membantu dengan sangat ramah.
Selanjutnya ntuk membuat tugas laporan individu setiap mahasiswa kala itu harus melakukan bimbingan khusus kepada satu orang siswa yang bermasalah atau kesulitan belajar. Kebetulan saya di bimbing oleh guru pamong dari kelas V. Di kelas ini ada siswa yang mengalami masalah belajar. Setelah saya dekati ternyata ada faktor-faktor yang memang menghambat ia untuk belajar. Subandi namanya. Anak laki-laki yang seharusnya sudah duduk di kelas 3 SMP tapi ia masih di kelas V. Hal ini karena ia memang mempunyai kekurangan fisik yaitu tunawicara dan tuna rungu sehingga memperlambat ia untuk menguasai pelajaran. Meskipun demikian, ia anak yang sopan dan baik di kelasnya.
Setelah mengajar seperti biasanya, saya melakukan bimbinagn khusus kepada Subandi dengan cara mengajarkan membaca dan menulis. Butuh ketekunan dan kesabaran mengajarkan anak berkebutuhan khusus seperti ini. Hendaknya ia berada di sekolah khusus. Namun melihat kondisi orang tuanya yang hanya sebagai nelayan kecil juga tidak memungkinkan ia untuk d sekolahkan di sekolah berkebutuhan khusus. Apalagi terkesan ada rasa malu jika anaknya sekolah di sekolah khusus. Kiranya kejadian seperti ini, harus dilakukan oleh berbagai pihak, misalnya sekolah, dan pemerintah untuk memberikan pendekatan kepada orang tua dan siswa untuk memberikan pengertian betapa pentingnya belajar kendati seorang anak memiliki kekurangan secara fisik maupun mental asal mau untuk bersekolah di sekolah khusus.
Selang beberapa minggu, sekitar di minggu ke 5 dan 6 kami harus melakukan ujian PPL. Menurutku kejadian inilah yang menjadi spot tersendiri . Sebelum kegiatan ujian PPL, kami semua mahasiswa PPL mengikuti kegiatan berkemah yaitu pada hari jum'at dan sabtu. Sementara hari Senin kami harus sudah mempersiapkan segala "alat perang" untuk siap bertempur dalam ujian PPL.
Hari Minggu pagi kami harus segera bergegas untuk mempersiapkan segalanya. Membuat Silabus, RPP, LKS, dan alat peraga yang sesuai dengan apa yang akan kami ajarkan. Setelah selesai membuat segala perlengkapan "alat perang" kami segera mencari jasa pengetikan komputer supaya naskah yang disusun terlihat rapi. sekitar jam 4 sore kami datang untuk mengambil naskah. Eeeehhh... ternyata si yang empunya rentalan komputer tidak ada. Betapa paniknya kami, belum motokopi, belum istirahat untuk persiapan ujian besok agar badan prima sementara si yang empunya rentalan belum datang juga. Kemudian sekitar pukul 10.00 malam, si yang empunya rentalan pun datang. Kami pun mengantri untuk mengedit dan mencetak naskah agar tidak ada kesalahan. Kami mengantri sampai jam 12 malam.
Sungguh tak terbayangkan olehku pada saat larut malam aku berada di negeri orang. Kami hanya perempuan semua. Setelah semua selesai, lanjut kami harus memfotokopi naskah LKS. Aku fikir, jam segini mana ada fotokopian? Tak patah semangat, kami berjalan kaki untuk mencari tempat fotokopi tapi hampir semua tutup. Ya Allah... tolonglah kami. 😭😭
Kami terus berjalan menyusuri sebuah pasar. Pasar Lama namanya dan akhirnya kami menemukan satu tempat fotokopian yang masih buka. Kami segera ke sana. Memohon kepada si empunya fotokopian untuk segera membantu kami. Alhamdulillah.. tak henti kami ucapkan syukur karena akhirnya ada juga fotokopian yang masih buka.
Setelah selesai, kami mencari angkot untuk segera pulang ke kostan. Dag dig dug hatiku karena aku tidak pernah bepergian selarut itu. Setibatnya di sana kami disambut oleh bu kost yang ramah karena ia pun khawatir kepada kami. Ia menyuruh kami untuk segera beristirahat.
Keesokan harinya, saat mendebarkan yang cukup memicu adreanlin kami melakukan ujian PPL dengan dosen pembimbing yang berbeda-beda. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Dosen pembimbing kami semuanya baik. Selama kami mengerjakan tugas dan berusaha maksimal untk menyelesaikan tugas pasti nilai yang didapat akan baik.
Saat mendebarkan sudah usai, waktunya untuk "healing". Kami sekelompok PPL pergi ke Pulau Burung yaitu sebuah pulau kecil tak berpenghuni namun memiliki pemandangan yang sangat indah. Di sana kami naik perahu, menikmati suasana pantai dan juga menikmati keindahan sunset. Sungguh luar biasa, pengalaman ini akan kukenang selamanya.
Untuk kalian teman-teman PPL ku dimanapun berada semoga kita selalu diberikan kesehatan, panjang umur dan semoga suatu saat kita bertemu lagi ya. Aamiin
Kerren . Unforgetable. Sukses selalu Kaj Imas. 👍
BalasHapusMantap kak Imas, teruskan menulis, menulis dan menulis
BalasHapus