Belajar lagi bersama IGI Pandeglang Menulis
Kegiatan nimas kali ini bersama IGI Pandeglang Menulis. Belajar di grup WA pada pukul 09.00, tapi nimas baru bisa membuat resume karena sebagai emak-emak baru sempet nulis setelah bagi-bagi waktu untuk pekerjaan rumah π..Kali ini nimas belajar bersama Kak Syafrudin. Beliau adalah seorang Kepala Sekolah SDN 1 Galumpang Kabupaten Tolitoli Sulawesi Tengah. Karyanya sudah cukup banyak bahkan sudah LOUNCHING 9 buah Buku pada HUT PGRI Tahun 2021, diterima langsung oleh Bapak Bupati Tolitoli yang didampingi oleh Wakil Bupati dan Unsur Muspida. Keren yah? Kapan ya saya seperti beliau??π
Ok.. Lanjut ke materi yang dibawakan oleh Kak Syafruddin. Materi yang sungguh luar biasa. Menggugah semangat, dan introspeksi diri juga terhadap kegiatan menulis yang saya lakukan selama ini. Beliau berbagi tips untuk menjadi penulis yang baik dan bisa konsisten. Apa aja sih? Mau tahu atau tahu banget?? hehe... Ga usaha berlama-lama, yuk, kita cekidot apa saja yang bisa membuat kita konsisten menulis.
Untuk menjadi penulis yang bisa konsisten, hendaknya penulis harus menghindari hal-hal berikut:
1. Tidak Percaya Diri
Rasa tidak percaya diri dan kecemasan terhadap diri sendiri atau sekarang ini lebih dikenal dengan insecure mungkin pernah dialami oleh kita. Hanya saja ada yang siap menggatasinya ada pula yang belum siap. Kurangnya pengalaman bisa membuat orang Stress dalam menghadapinya.
Contohnya insecure, kita tidak percaya akan hasil karya kita sendiri. Jangan pernah mengatakan “karya saya enggak keren”, ini akan selalu menghantui kita dan sangat merugikan. Kita akan semakin jauh dari mimpi kita dan semakin tertinggal dengan orang-orang sukses. Insecure harus dilawan!
Insecure hanya akan membuatmu makin tertinggal. Percaya saja sama diri sendiri dan apa yang kamu lakukan adalah usaha yang terbaik. Jadi, kamu harus menghargai diri sendiri yang sudah berusaha keras.
2. Selalu Ingin Terlihat Sempurna
Nobody’s perfect! Begitupun pada suatu karya, tidak ada yang sempurna. Kendala pada poin ini ditandai dengan sering merevisi karya kita dan pada akhirnya karya kita tidak tamat-tamat. Fokus dan pusatkan pada kata tamat. Bukan berarti karya kita tidak direvisi ya? Tetapi lakukan swasunting ketika di akhir karya.
Karena tidak sempurna, maka kita perlu terbuka terhadap masukan-masukan dari publik. Dikritik bukan berarti jelek, hanya perlu beberapa perbaikan. Masukan itu ibarat amunisi, gizi, yang akan membuat kita (seharusnya) tumbuh lebih baik karena bisa lebih cerdas menerima kritikan.
3. Nulis Dulu, Riset Lewat!
Riset dalam suatu tulisan mungkin yang paling sering ditinggalkan ya? Karena riset memang membutuhkan tenaga, waktu dan kuota yang lebih. Karena banyak dari kita ingin simple, maka melewatkannya.
Apa yang disampaikan penulis itu, yang akan diserap pembaca.
Jadi, penulis punya tanggung jawab besar atas apa yang dia tulis. Bayangkan kalau apa yang kita sampaikan menyesatkan? Riset itu minimal untuk tempat tinggal, fasilitas umum, penyakit, soal rumah sakit, dan sebagainya. Target utama kita melakukan riset adalah FAKTA dan LOGIKA. Jangan sampai apa yang kita tulis itu fantasinya benar-benar 100%. Mulailah dan jangan malas meriset sesuatu sebelum menulis. Justru riset itu menyenangkan, bisa membuat kita lebih tahu banyak hal. Jangan…
4.Mementingkan Like Atau Vote
Ini biasanya menulis pada digital platform . Like atau vote memang penting, tetapi bukan berarti sangat prioritas dan di atas segalanya. Meski memang tidak dimungkiri, poin ini sangat penting karena menentukan apakah karya kita disukai atau tidak. Coba kita ubah poin disukai atau tidak jadi tepat sasaran atau tidak. Ya, kita harus tahu dulu apa yang kita tulis, apakah sudah cocok dengan sasaran pembaca?
Pandai-pandailah menempatkan karya kita. Kita juga jangan insecure karena apa yang kita tulis itu jauh dari selera umum. Semua karya akan menemukan tempat di hati para pembacanya. Hanya perlu waktu dan usaha. Hidup tidak selamanya gagal, tidak pula selamanya berhasil. Fokuslah menulis, fokus pada target yang kita buat. Like dan vote itu bonus.
5. Membandingkan Karya
Sifat membanding-bandingkan ini harus dibuang. Hanya membuat kita kehilangan jati diri dan tidak menghargai usaha yang sampai mati-matian. Hargai usaha sekecil apa pun.
Setiap karya itu spesial, berhentilah untuk membandingkannya. Tugas kita hanya membuatnya tampil di depan umum, bukan memukulnya dengan kalimat-kalimat pesimis. Membandingkan karya hanya membuang waktu. Jadi, fokus saja pada karya sendiri, tunjukan bahwa karya kamu spesial.
6. Moody atau Nulisnya Angin-Anginan
Kasus ini sering dialami hampir sebagian penulis, tidak terkecuali saya. Ada beberapa pertanyaan yang sering diajukan: “Kak, tips, dong, untuk melawan badmood pas menulis.”
Masalah mood memang balik lagi ke diri kita sendiri. Kasus menulis yang terkendala mood kuncinya adalah menguasai diri. Ingat juga bahwa kamu memiliki tanggungan yang harus diselesaikan.
Menulis saat badmood itu tidak disarankan, sebaiknya istirahat dan lupakan tanggung jawab untuk sejenak. Ingat, kamu harus balik lagi untuk menyelesaikan apa yang telah kamu mulai. Semangat ya!
7. Ekspektasi Terlalu Tinggi, Malah Ditampar Kenyataan
Tidak ada keberhasilan yang instan. Perlu perjuangan dan pengorbanan. Ekspektasi penulis pemula kadang terlalu tinggi. Semisal, masuk mayor, karya best seller, karya difilmkan. Tidak ada yang salah dengan mimpi itu. Justru itu bagus. Seperti Quote “Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang” -Ir. Soekarno-
Tidak ada keberasilah yang mudah, semuanya butuh proses. Jadi, ketika kamu berekspektasi tinggi, saat itulah kamu memutuskan—dan harus—bekerja keras untuk mimpimu. Kalau gagal sekali, ya jangan langsung berhenti. Bangkit dan larilah terus. Gagal itu menyakitkan, tetapi selalu ada pesan dan pengalaman berharga. Bermimpilah setinggi langit.
8. Antikritik
Poin ini yang bahaya, ini ada dua kasus yang melandasi: merasa sempurna dan tidak siap. Merasa sempurna yang paling bahaya. Yang mana, kritik dari segala arah tidak akan mempan. Terbukalah terhadap kritikan. Kritikan itu membangun, sangat membantumu. Apalagi baru memulai karier, menulis karya. Masukan-masukan sangat diperlukan. Kritik bukan berarti mencemooh karyamu, tidak sama sekali. Justru mereka yang memberikan kritik adalah yang peduli padamu, yang ingin kamu jadi orang sukses, jadi lebih baik.
Kedua, tidak siap. Yang mana, sedikit dikeritik saja sudah sakit hati dan beranggapan karyanya tidak layak dipublikasikan. Harus mulai diubah karena ini mengganggu banget. Overthinking tidak baik untuk kesehatan mental. Kritik itu membantumu berdiri lebih kuat.
9. Mudah Down
Kasus selanjutnya memang rentan. Bisa dialami siapa saja. Penyebabnya beragam, tetapi yang umum itu konflik, beban, dan kekhawatiran berlebihan. Perasaan mudah down ini bisa diatasi dengan hal-hal sederhana. Misal membuat dirimu merasa tidak sendirian sehingga ketika down ada “teman”. Down adalah titik puncak tertekannya seseorang. Karena ketika down, seseorang akan merasa sendirian, tidak dibutuhkan, teramat tidak pantas menapaki jalannya. Bangkit, ya. Solusi dari mengatasi down adalah mulai berdiri, merangkak, dan kembali berlari. Bangkitlah, jika kamu tidak ingin selamanya terjebak dalam lubang keputusasaan. Bangkitlah saat tidak ada yang membuatmu bangkit. Semua tergantung pada tanganmu, dirimu, hatimu, dan kepalamu.
10. Malas Promosi
Mau banyak pembaca ya harus promosi, penulis yang sudah terkenal pun pasti selalu mempromosikan karyanya. promosi atau branding bisa dilakukan di mana saja. Pandai-pandai kita saja. Apalagi zaman sudah canggih. Banyak website penyedia jasa editing untuk bahan promosi biar lebih cantik dan menarik. Contohnya, website Canva.
Promosi di status WhatsApp atau obrolan bersama teman grup. Atau, yang lebih besar perjuangannya adalah promosi berbayar. Sekarang banyak akun-akun Instagram penyedia jasa paid promote .
Kalau kita sebagai pemilik karya saja sudah malas mempromosikan, apa kabar pembaca? Mereka harus “diundang” dulu. Mereka akan datang jika melihat “umpan”. Jadi, berhentilah malas. Waktunya promosi! Ngomong-ngomong, jam bagus buat promosi itu jam-jam istirahat. Semisal, mulai pukul enam petang.
Selalu teringat pesan beliau agar selalu berupaya MENULIS ..., MENULIS ... dan MENULIS, sebab yang dikatakan PENULIS PROFESIONAL bukanlah penulis yang menghasilkan tulisan yang bagus tetapi adalah PENULIS yang SELALU MENULIS SETIAP SAAT.
Semoga nimas bisa mengikuti jejak beliau. Aamiin...
Ayo, semangatlah wahai diri. Taklukkan malas, moody dan sifat negatif lainnya yang membuat diri tidak semakin berkembangπͺπͺπͺ
Salam Literasi
nimas
Mantap kak Imas, hal ini juga merupakan bagian dari menulis. Lanjutkan!. Adapun dari ke 10 tips tersebut moga-moga yang nulis pertama kali senantiasa mengalir pahala buat beliau. Aamiin!
BalasHapusKerren Kak Imas..in Staa Allah dengan menuliskan semua yang kita dapatkan sudah sesuai dengan yang dikatakan bahwa ukatlah iu dengan menulis. π
BalasHapus