Kelas berkesan dengan bu May
Assalamu'alaikum, wr.wb
Salam sehat, Salam semangat sahabat...
Alhamdulillah bersyukur sekali saya mengikuti grup penulis orang-orang hebat yaitu WIMP PMA (Write Is My Passion Perusahaan Milik Allah). Grup ini benar- benar grup hebat. Banyak penulis-penulis yang super keren sehingga saya bisa belajar lebih banyak dengan mereka.
Sudah saya ceritakan sebelumnya bahwa awal mulanya ikut grup ini karena saya diajak oleh saudara. Kemudian saya ikuti terus menerus dan akhirnya saya sangat tertarik karena memotivasi saya untuk terus belajar. Bukankah prinsip belajar itu salah satunya adalah " Belajar sepanjang hayat?"....
Dari grup ini saya belajar membuat Antologi. Nah, supaya lebih spesifik pembimbing saya tercinta, Bu May (ternyata beliau orang Lebak Banten, jadi ternyata tetanggaan deh. Alhamdulillah). membuat grup baru yaitu "Pucuk Diksi." Luaarrrr biasa ... saya benar terkesima dan sangat senang bisa belajar diksi dengan dipandu oleh beliau.
Pembahasan pada malam ini diawali dengan perkenalan tentang Pucuk Diksi yaitu sebuah kelas mungil untuk membimbing kami bagaimana cara menghasilkan sebuah tulisan yang enak dibaca, dan memiliki sense of jurnalism/ enak di rasa.
Menurut beliau hal pertama yang harus dilakukan sebelum menulis adalah Berwudhu agar tulisan yang kita hasilkan memiliki ruh, memiliki hantaran antara diri kita dengan pembaca. keren banget khan??? (Sesibuk apapun kita, hanyalah hamba yang tidak akan bisa lepas dari pertolongan Allah SWT)
Lebih menegaskan beliau menuliskan "Easy reading is damn hard writting: Tulisan yang enak dibaca adalah tulisan yang sulit dibuat." Mantap khan? membuat saya jadi lebih tertarik mengikuti kelas sampai selesai.
Baiklah, jangan banyak basa-basi, mari kita simak resume pembelajaran malam ini: cekidot๐๐
1. Ketika menulis, persiapkan dengan matang, persiapkan jasmani dan rohani kita. Agar tulisan kita bermakna dan memiliki nilai 'touching'/sentuhan.
2. Menulis itu proses mengungkapkan perasaan, proses mengungkapkan gagasan. Jadi, yang paling penting dari sebuah tulisan adalah bagaimana tulisan kita bisa didengar, bagaimana tulisan kita bisa dirasa, dan bagaimana cerita dalam tulisan kita bisa dilihat dengan mata.
3. Itulah sebabnya menulis harus memiliki keterampilan menciptakan sense of jurnalism keterampilan menyampaikan pesan pada hati pembaca yang meliputi : Telinga, hati, dan mata.
4. Meramu sebuah kata menjadi tulisan yang bermakna merupakan hal yang sulit karena kita hanya menulis tanpa merasa. Lantas, bagaimana kita mampu menciptakan touching/ sentuhan rasa dalam tulisan kita?
Jawabannya adalah bahwa kita harus melibatkan ketiga indera tersebut, maka apa yang kita tuliskan akan menghadirkan Sense of Nature.
Sense of Nature adalah keterampilan melibatkan apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, dan apa yang kita rasakan dalam gawai tulisan. Apabila sense of nature ini sudah kita kuasai, maka tak ada tulisan yang sederhana. Diksi2 manis akan keluar mengalir seperti aliran air menuju muara.
5. Dalam menulis, kita harus bermain Diksi karena bakat seorang menulis akan nampak pada rangkaian Diksi yang dikuasainya. Menjadi penulis cerdas itu mudah, bahkan mbah google adalah yang paling cerdas. Tetapi menjadi penulis berbakat, hanya 1 dari seribu penulis.
"Jika kita hanya memiliki kecerdasan saja, kecerdasan itu hanya akan terpajang pada angka di izazah. Tetapi ketika kita memiliki bakat, maka dunia akan mencari kita. So, Jadilah penulis cerdas yang berbakat." Waah... motivasi yang luarr biasa.
Disela-sela materi, beliau berbagi pengalaman semasa di SMP. Menurutnya Bahasa Indonesia bahasa yang kaya. Waktu itu, beliau masih sempat belajar majas, belajar peribahasa. Tapi, coba kita lihat kurikulum sekarang, tidak ada lagi majas yang dipelajari oleh anak2 didik kita. Alhasil, bahasa gaul lebih di gandrungi daripada bahasa Indonesia yang baku. Maka, sebagai seorang guru, tugas kita adalah membenahi diri kita, memperkuat bahasa tercinta, agar anak didik kita mencintai bahasa lewat touching dari gurunya. Coba tengok Fb nya, Tiktok nya, Ig nya para murid2 kita. Mereka sudah sangat miskin kosakata.
Pada bagian akhir beliau memberikan tantangan untuk membuat tulisan dengan lattar suasana malam dengan satu tokoh boleh perempuan atau laki-laki.
Semua peserta sangat antusias untuk mengikuti tantangannya. Banyak sekali tulisan indah dengan diksi yang luar biasa menarik. seperti tulisan dari bunda Mardiyah Adzin berikut ini:
Kamar ukuran 3x4 itu semakin dingin. Jutaan mimpi dan cerita diam membeku. Suara desah halus, di antara butiran air mata rindu menetes. Tangan halus itu berusaha menghentikan derai nya,namun tak sanggup. "Sudah enam purnama, tidakkah engkau merindukanku mas?"
Suara cicak, di atas meja rias penuh hiasan bunga sedap malam.
Bunga yang sama. Saat malam terakhir, melepas sang lelaki berseragam hijau, " Tuhan, lindungi suamiku!"
Mata penuh rindu itu terpejam, berharap mimpi indah, bersama laki-laki rupawan berseragam hijau.
Daaannn... masih banyak lagi tulisanmenarik lainnya yang membuat saya terus bersemangat untuk belajar diksi. semoga saya bisa mengikuti jejak mereka.๐ช๐ช
Wassalamu'alaikum wr. wb
Imas Masitoh
Pandeglang, 14 November 2021
Salam Literasi
Satu hari, satu tulisan.
Keren bu Nimas, sampai resume nya juga selesai. Menghayati sekali selama belajar tadi. Semangat terus ibu. Ada saatnya kita menanam, ada saatnya pula kita memanen. Salam Literasi.
BalasHapusLuar biasa. Ilmu didapat, resume pun jadi. Sekali mengayuh dua, tiga pulau terlampaui. Inilah wujud pembelajar sejati. Semoga ilmunya meresap ke dalam sanubari dan menemukan takdirnya mrnjrlma menjadi karya yang luar biasa bila saatnya tiba.
BalasHapusMantap bun ilmunya terserap akhirnya melahirkan resume yang keren..salam literasi
BalasHapusLuar biasa, Bu Nimas..๐๐ป๐
BalasHapus